JAKARTA,newsline.id — Pasar keuangan Indonesia mulai bergetar. Rupiah akhirnya pecah ke level terburuk sepanjang sejarah setelah dolar Amerika Serikat menghantam hingga Rp17.669 pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Tekanan besar itu langsung memicu gelombang kepanikan di pasar saham dan obligasi nasional.
Dalam hitungan jam, investor asing mulai menarik dana dari pasar Indonesia. IHSG ditutup anjlok 1,85 persen ke level 6.599, sementara arus modal asing tercatat keluar hingga Rp464 miliar. Di saat bersamaan, imbal hasil obligasi pemerintah melonjak ke 6,81 persen — sinyal kuat bahwa tekanan terhadap ekonomi domestik mulai membesar.
Sepanjang 2026, rupiah sudah terpuruk 5,8 persen dan kini menjadi salah satu mata uang dengan performa paling buruk di Asia. Situasi tersebut terjadi ketika dunia sedang dihantam kombinasi ancaman global yang datang bersamaan: inflasi Amerika Serikat melonjak, dolar AS menguat, dan harga minyak dunia kembali membara akibat konflik Timur Tengah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Harga minyak Brent bertahan di kisaran US$110 per barel setelah insiden drone di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global. Kondisi itu membuat pasar internasional makin tegang karena lonjakan harga energi berisiko memperparah inflasi dunia.
Di Amerika Serikat, data terbaru justru memperburuk keadaan. Inflasi April 2026 naik ke level 3,8 persen dan melampaui ekspektasi pasar. Angka tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa bank sentral AS, The Fed, masih akan agresif menaikkan suku bunga.
Efeknya langsung terasa brutal di negara berkembang.
Dolar AS melonjak tajam dan membuat investor global berbondong-bondong meninggalkan aset berisiko. Indonesia ikut terseret dalam gelombang tekanan itu.
Pasar kini mulai berspekulasi bahwa Bank Indonesia akan sulit mempertahankan suku bunga di level saat ini jika tekanan terhadap rupiah terus membesar. Konsensus analis bahkan mulai mengarah pada peluang kenaikan BI Rate demi menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam arus keluar modal asing.
Meski begitu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mencoba meredam kepanikan. Dalam rapat bersama DPR, Perry menegaskan pelemahan rupiah masih dalam kategori terkendali dan dipengaruhi faktor musiman kuartal kedua, terutama meningkatnya kebutuhan dolar untuk pembagian dividen dan pembayaran impor.
Bank Indonesia juga tetap optimistis rupiah bisa kembali bergerak ke kisaran Rp16 ribuan pada semester berikutnya.
Namun pasar belum sepenuhnya tenang.
Sebab tekanan global kali ini datang tanpa jeda: dolar AS terus menguat, harga minyak belum turun, inflasi AS kembali memanas, dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin agresif.
Jika situasi ini bertahan lebih lama, tekanan terhadap rupiah berpotensi berubah menjadi ujian paling berat bagi pasar keuangan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.(*)









