BBCA Terseret Aksi Jual Asing, Rontok 32% Tapi Analis Tetap Optimistis

Tuesday, 19 May 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Illustrasi

Illustrasi

JAKARTA,newsline.id — Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali jadi pusat perhatian pasar setelah mengalami tekanan berkepanjangan hingga terkoreksi lebih dari 32 persen dalam satu tahun terakhir. Di saat investor asing terus keluar dari pasar, mayoritas analis justru masih mempertahankan pandangan bullish.

Pada perdagangan Selasa (13/5/2026), BBCA ditutup di level Rp6.100 atau melemah 32,22 persen secara tahunan. Secara year to date, saham ini juga turun 24,46 persen dari posisi awal tahun di kisaran Rp8.000, mencerminkan tekanan yang belum mereda sejak awal 2026.

Tekanan jual terlihat konsisten di lantai bursa. Dalam satu sesi perdagangan, saham BBCA mencatat nilai transaksi sekitar Rp898,1 miliar dengan arus keluar investor asing sebesar Rp91,76 miliar. Tren net foreign sell ini memperpanjang tekanan yang sudah berlangsung beberapa pekan.

Bahkan pada akhir April 2026, aksi jual asing sempat melonjak hingga Rp690,95 miliar dalam satu hari perdagangan, mempercepat penurunan harga saham dari level psikologis sebelumnya.

Meski tekanan pasar cukup dalam, konsensus analis tidak banyak berubah. Sebanyak 35 analis masih memberikan rekomendasi buy, sementara hanya dua yang memilih hold dan tidak ada yang menyarankan sell.

Target harga rata-rata BBCA juga masih berada di Rp8.912 per saham, atau sekitar 46 persen di atas harga pasar saat ini. Dalam skenario optimistis, target tertinggi analis mencapai Rp10.900 per saham, dengan batas bawah di Rp5.500.

Manajemen perseroan sebelumnya menegaskan bahwa fundamental bisnis tetap terjaga dan operasional BBCA berjalan normal di tengah volatilitas pasar yang meningkat.

Baca Juga  Bank Mandiri Perkuat Transaksi Digital di FJGS 2025, Dorong Pertumbuhan Ritel dan Inklusi Keuangan

Struktur kepemilikan saham juga masih stabil, dengan PT Dwimuria Investama Andalan sebagai pemegang saham mayoritas sebesar 54,94 persen, disusul investor institusi global seperti Government of Norway yang masih tercatat sebagai pemegang saham.

Kondisi ini membuat BBCA berada dalam posisi yang unik di pasar: tekanan jual asing masih berlanjut dan harga terus terkoreksi, namun ekspektasi jangka panjang dari analis tetap menunjukkan potensi pemulihan yang kuat di tengah gejolak pasar saham Indonesia.(*)

Berita Terkait

Pemutakhiran Data Indeks Desa Tahun 2026: Fondasi Pembangunan Desa Masyarakat Yang Akurat Dan Berkelanjutan
Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Hampir Rp18.000
Sehari Usai Dadan Dicopot, Kejagung Geledah BGN 8 Jam
Nanik S Deyang Pimpin BGN, Eks Jurnalis Kini Kendalikan Program MBG
SPMB Jakarta 2026 Dibuka, Ribuan Siswa Berebut 7.708 Kursi Sekolah Gratis
Kebakaran Hebat Landa Pasar Jiung Kemayoran, Api Hanguskan Kios dan Permukiman Warga
25 Gerai Alfamart-Indomaret Ditutup Mendadak, Ribuan Pekerja Terancam
SIM Fisik Mulai Ditinggal, SIM Digital Kini Sah Dipakai
Berita ini 5 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Friday, 5 June 2026 - 22:07 WITA

Pemutakhiran Data Indeks Desa Tahun 2026: Fondasi Pembangunan Desa Masyarakat Yang Akurat Dan Berkelanjutan

Wednesday, 3 June 2026 - 17:33 WITA

Rupiah Kian Tertekan, Dolar AS Hampir Rp18.000

Wednesday, 3 June 2026 - 12:30 WITA

Sehari Usai Dadan Dicopot, Kejagung Geledah BGN 8 Jam

Wednesday, 3 June 2026 - 07:46 WITA

Nanik S Deyang Pimpin BGN, Eks Jurnalis Kini Kendalikan Program MBG

Tuesday, 2 June 2026 - 13:51 WITA

SPMB Jakarta 2026 Dibuka, Ribuan Siswa Berebut 7.708 Kursi Sekolah Gratis

Berita Terbaru

Jefry Rumampuk, Jurnalis Korban Pembacokan beberapa tahun lalu

Gorontalo

Korban Pembacokan Jurnalis Minta Rusli Habibie Buka Suara

Tuesday, 9 Jun 2026 - 08:54 WITA