JAKARTA,newsline.id — Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita mendadak mengguncang media sosial Indonesia. Di tengah kontroversi pembubaran sejumlah agenda pemutaran, publik justru semakin penasaran dengan isi film yang disebut mengangkat wajah kelam konflik tanah adat di Papua.
Nama Pesta Babi kini ramai diburu warganet. Banyak yang mencari cara menonton film tersebut setelah berbagai potongan cerita dan diskusi tentang dokumenter itu viral di TikTok, X, hingga Instagram.
Film garapan Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale itu tidak tayang di bioskop maupun platform streaming seperti Netflix dan YouTube. Aksesnya dibuat terbatas melalui jaringan nonton bareng komunitas yang harus didaftarkan secara resmi kepada penyelenggara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Situasi itu membuat film ini terasa eksklusif sekaligus kontroversial. Semakin banyak pemutaran yang menuai polemik, semakin besar pula rasa penasaran publik untuk menyaksikannya.
Dokumenter berdurasi 95 menit tersebut membawa penonton masuk ke Papua Selatan, memperlihatkan benturan antara masyarakat adat dan ekspansi proyek perkebunan tebu, sawit, bioetanol, hingga food estate.
Suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu menjadi pusat cerita. Hutan adat yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga perlahan berubah menjadi kawasan industri berskala besar.
Salah satu adegan paling kuat dalam film ini adalah munculnya simbol “salib merah” yang dipasang warga sebagai bentuk penolakan terhadap proyek yang dianggap mengancam tanah leluhur mereka.
Tak hanya mengangkat isu lingkungan dan hak adat, film ini juga menyinggung dugaan militerisasi dalam pengamanan investasi di Papua. Narasi itulah yang membuat Pesta Babi menjadi salah satu film dokumenter paling kontroversial dan paling ramai diperbincangkan saat ini.(*)









