MERAUKE, Newsline.id ~ Di sudut Kota Merauke tepatnya di Spadem, Papua Selatan, sebuah telepon genggam berdiri di dekat wajan panas yang terus mengepul. Sesekali layar itu menyala oleh notifikasi pesanan baru, sementara tangan Evlin Meiswanti Butar butar tetap sibuk meracik mie gomak untuk pelanggan.
Tidak ada restoran besar. Tidak ada papan reklame mencolok. Hanya sebuah rumahan bernama ERS93 yang perlahan dikenal luas lewat TikTok @evlinrevivalbutar dan Facebook evlin revival butar butar.
Namun dari tempat sederhana itu, pesanan datang tidak hanya dari sekitar Merauke, tetapi juga dari daerah lain seperti Kabupaten Mappi hingga Kabupaten Asmat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Inilah wajah ekonomi Indonesia hari ini. Ia hidup, tumbuh cepat, dan bergerak melampaui batas-batas usaha konvensional yang selama puluhan tahun dikenal masyarakat.
Dulu, aktivitas ekonomi identik dengan ruang fisik. Toko di pinggir jalan, kios di pasar, atau ruko di pusat kota menjadi simbol keberadaan usaha. Kini, batas itu mulai kabur.
Telepon genggam kini tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan telah berubah menjadi ruang ekonomi baru.
Fenomena “usaha tanpa papan nama” tumbuh di banyak daerah, termasuk di wilayah timur Indonesia. Pelaku usaha tidak selalu memiliki toko besar, gudang, ataupun badan usaha formal. Namun transaksi berlangsung setiap hari dalam skala yang terus meningkat.
Evlin menjadi salah satu gambaran perubahan tersebut.
Ia memulai usahanya pada April 2021 dengan modal sekitar Rp400 ribu sambil menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Merauke. Awalnya ia berjualan donat, namun proses produksi yang cukup lama membuatnya beralih menjual ayam geprek dan mie gomak.
Di masa awal, usahanya belum banyak dikenal.
“Dulu belum banyak yang melirik mie gomak karena saya belum pintar pemasaran,” ujarnya.
Saat itu penjualan hanya dilakukan secara terbatas melalui sistem pre-order.
Perubahan mulai terasa ketika ia aktif menggunakan TikTok dan Facebook sebagai sarana promosi. Berbekal telepon genggam, Evlin belajar membuat konten sendiri sambil membagikan aktivitas kesehariannya sebagai mahasiswa yang berjualan melalui akun TikTok dan Facebook.
Konten sederhana itu justru menarik perhatian banyak orang.
Dalam sehari, nomor pelanggan baru yang masuk melalui media sosial bisa mencapai 20 hingga 50 kontak. Sebagian besar pembeli mengenal usahanya melalui TikTok dan Facebook.
“Kalau tidak ikut media sosial, saya rasa usaha ini tidak bisa berkembang seperti sekarang,” katanya.
Media sosial perlahan mengubah cara usahanya bertumbuh. Penjualan meningkat hingga sekitar 70 persen. Dalam sehari, pesanan yang terjual bisa mencapai 35 hingga 100 porsi.
Sebagian besar pelanggan kini memesan melalui chat dan layanan delivery.
Fenomena seperti ini menunjukkan bagaimana ruang digital telah menciptakan pola ekonomi baru yang bergerak melampaui batas usaha konvensional.
Kini transaksi tidak lagi harus terjadi di pasar atau pusat perbelanjaan. Konsumen cukup membuka aplikasi di telepon genggam untuk memilih barang, membandingkan harga, melakukan pembayaran, lalu menunggu produk dikirim ke rumah.
Di balik proses yang terlihat sederhana itu, lahir rantai ekonomi baru yang bekerja hampir tanpa henti.
Ketika satu produk viral di media sosial, dampaknya menjalar ke berbagai sektor. Jasa kurir mengalami peningkatan pengiriman, pengemudi ojek online menerima tambahan pesanan, pemasok bahan baku ikut bergerak, hingga pelaku UMKM mulai menjadikan media sosial sebagai sarana utama pemasaran.
Ekonomi digital tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan telah menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, perubahan tersebut turut menghadirkan tantangan baru.
Banyak pelaku usaha digital bergerak secara mandiri dari rumah, kamar kos, atau kantin kecil tanpa papan nama usaha yang mencolok secara fisik. Mereka aktif secara ekonomi, tetapi tidak selalu mudah terlihat dalam pendekatan usaha konvensional yang berbasis lokasi fisik.
Padahal, mereka merupakan bagian nyata dari denyut ekonomi Indonesia saat ini.
Di sinilah pentingnya pemetaan ekonomi yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
Menjelang Sensus Ekonomi 2026, perubahan pola usaha seperti ini menjadi gambaran bahwa aktivitas ekonomi masyarakat kini berkembang jauh melampaui toko, pasar, dan pusat perdagangan konvensional. Ekonomi juga tumbuh di ruang digital yang bergerak cepat di balik layar telepon genggam.
Usaha-usaha kecil berbasis media sosial, kreator konten, penjual online, hingga pelaku UMKM digital kini menjadi bagian dari ekosistem ekonomi baru yang terus berkembang, termasuk di daerah-daerah yang selama ini dipandang jauh dari pusat pertumbuhan digital nasional.
Kisah Evlin menunjukkan bahwa ekonomi modern tidak selalu hadir dalam bentuk gedung besar atau toko mencolok.
Kadang, ia tumbuh dari kantin kecil, layar TikTok, jaringan internet, dan keberanian untuk mencoba bertahan.
Di era ini, usaha tidak selalu membutuhkan papan nama untuk bisa dikenal luas.
Namun justru dari ruang-ruang sederhana yang nyaris tak terlihat itulah denyut ekonomi baru Indonesia sedang bergerak—diam, cepat, dan terus meluas.
Dan melalui Sensus Ekonomi 2026, denyut yang selama ini tersembunyi di balik layar genggam itu perlahan akan mulai terlihat dalam wajah resmi perekonomian Indonesia.









