MERAUKE, Newsline.id — Di tengah sorotan dunia terhadap masifnya pembukaan hutan di Papua Selatan, gelombang alat berat terus berdatangan ke Merauke. Sebanyak 264 unit excavator baru milik Jhonlin Group kembali tiba untuk mendukung proyek cetak sawah 1 juta hektar dalam program nasional Food Estate.
Kedatangan terbaru ini membuat total alat berat yang telah masuk mencapai 764 unit, dari target 2.000 unit excavator yang disiapkan untuk mempercepat pembukaan kawasan di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.
Bagi pemerintah, proyek ini disebut sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan pangan nasional. Namun bagi banyak pihak, kehadiran ribuan alat berat di tanah Papua justru menjadi simbol percepatan deforestasi dan perubahan bentang alam terbesar dalam sejarah Papua Selatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Proyek berskala raksasa ini menggunakan excavator produksi SANY Group asal Tiongkok dalam jumlah fantastis dan disebut-sebut sebagai salah satu pemesanan alat berat terbesar di dunia. Di lapangan, alat-alat tersebut terus membuka kawasan hutan untuk cetak sawah, perkebunan tebu bioetanol, hingga kelapa sawit.
Keterlibatan Jhonlin Group milik Haji Isam dalam proyek strategis nasional ini memperlihatkan besarnya kekuatan industri yang kini bergerak di selatan Papua. Namun di balik narasi ketahanan pangan, kekhawatiran publik terhadap dampak ekologis terus membesar.
Sejumlah masyarakat adat, pemerhati lingkungan, hingga warga lokal mulai mempertanyakan dampak jangka panjang proyek ini terhadap kondisi alam Merauke yang dikenal sebagai wilayah dataran rendah dan rentan terhadap genangan. Banyak pihak khawatir pembabatan hutan secara besar-besaran dapat menghilangkan daya serap alami tanah dan memperbesar risiko banjir di masa depan.
Kekhawatiran itu muncul karena hutan-hutan alami selama ini dianggap sebagai benteng ekologis yang menjaga keseimbangan air, menahan abrasi, serta melindungi kawasan dari dampak cuaca ekstrem. Jika kawasan hutan terus hilang dalam skala besar, masyarakat khawatir Merauke suatu saat akan menghadapi ancaman genangan besar ketika curah hujan tinggi datang.
Selain ancaman ekologis, proyek ini juga memicu kekhawatiran terhadap hilangnya ruang hidup masyarakat adat. Nama-nama seperti Suku Marind dan Awyu kini menjadi sorotan dalam berbagai penolakan terhadap ekspansi pembukaan lahan yang dinilai mengancam tanah leluhur mereka.
Masuknya ribuan alat berat ke Papua Selatan kini bukan lagi sekadar simbol pembangunan nasional, tetapi juga menjadi penanda perubahan besar bentang alam Merauke. Di tengah proyek yang terus berjalan, publik mulai mempertanyakan siapa yang paling diuntungkan, dan siapa yang nantinya harus menanggung dampak ekologisnya.









