Ketika Tanah Adat Papua Dibuka untuk Proyek Raksasa

Wednesday, 20 May 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MERAUKE, Newsline.id – Wilayah selatan Papua kini menjadi pusat perhatian dunia internasional. Bukan karena pembangunan yang membawa rasa aman bagi masyarakat adat, melainkan karena laju pembabatan hutan terbesar yang pernah terjadi di tanah Papua Selatan.

Melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) Food Estate dan ekspansi perkebunan skala masif, lebih dari 2,5 juta hektar lahan di wilayah Papua Selatan—meliputi Merauke, Boven Digoel, dan Mappi—ditargetkan untuk dikonversi menjadi kawasan cetak sawah, perkebunan tebu bioetanol, hingga kelapa sawit.

Hutan-hutan yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat adat perlahan berubah menjadi hamparan industri pangan dan energi. Ribuan hektar kawasan alami dibuka menggunakan alat berat, meninggalkan pertanyaan besar: pembangunan ini sebenarnya untuk siapa?

Di balik narasi “ketahanan pangan nasional”, muncul kekhawatiran serius terhadap dampak ekologis dan sosial yang ditimbulkan. Deforestasi dalam skala besar berpotensi menghancurkan ekosistem Papua yang selama ini dikenal sebagai salah satu benteng hutan tropis terakhir di dunia. Kerusakan hutan juga diyakini dapat memicu emisi karbon besar, memperparah krisis iklim global.

Tak hanya itu, proyek ini juga memicu konflik agraria dengan masyarakat adat yang selama turun-temurun hidup dan bergantung pada tanah leluhur mereka. Nama-nama seperti Suku Marind dan Awyu kini menjadi simbol perlawanan terhadap hilangnya ruang hidup akibat ekspansi proyek berskala raksasa tersebut.

Baca Juga  Tingkat Kelulusan 96,97 Persen, 97 Siswa di Merauke ‘Hilang’ dari Sekolah

Ironisnya, ketika suara penolakan masyarakat adat mulai menggema hingga ke tingkat nasional dan internasional, pembukaan lahan justru terus berjalan. Ratusan Excavator terus berdatangan, sementara hutan Papua terus menghilang sedikit demi sedikit.

Bagi banyak pihak, yang terjadi di Papua Selatan hari ini bukan sekadar proyek pangan nasional. Ini adalah pertarungan besar antara kepentingan investasi dan masa depan masyarakat adat serta lingkungan hidup Papua Selatan.

Berita Terkait

Ribuan Excavator Masuk, Warga Khawatir Merauke Kehilangan Benteng Alamnya
Dokumenter ‘Pesta Babi’ Tuai Polemik, Lagu ‘Pesta Para Babi Pembangunan’ Viral di Media Sosial
Bupati Merauke Hadiri Penandatanganan Kontrak Cetak Sawah 2026 di Depok
Usaha Tanpa Papan Nama: Menangkap Denyut Ekonomi “Ghaib” di Balik Layar Genggam
“Masyarakat Tidak Tahu Penderitaan Nakes RSUD Merauke,” Komisi III DPR Papua Selatan Mulai Dalami Persoalan
Ketua TP PKK Merauke Dorong Perempuan Melek Digital: “Cukup dari HP Sudah Bisa Hasilkan Uang”
Menjaring Ekonomi di Atas Matras Muaythai: Cerita Nicolaas Balagaize Menyongsong Sensus Ekonomi 2026
Ketika Data Menentukan Keadilan: Memaknai Sensus Ekonomi 2026 dari Wilayah Perbatasan
Berita ini 8 kali dibaca
Dari udara terlihat perubahan besar bentang alam Papua Selatan akibat proyek pangan dan perkebunan skala industri.

Berita Terkait

Wednesday, 20 May 2026 - 09:10 WITA

Ribuan Excavator Masuk, Warga Khawatir Merauke Kehilangan Benteng Alamnya

Wednesday, 20 May 2026 - 08:28 WITA

Ketika Tanah Adat Papua Dibuka untuk Proyek Raksasa

Saturday, 16 May 2026 - 13:40 WITA

Dokumenter ‘Pesta Babi’ Tuai Polemik, Lagu ‘Pesta Para Babi Pembangunan’ Viral di Media Sosial

Friday, 15 May 2026 - 08:12 WITA

Bupati Merauke Hadiri Penandatanganan Kontrak Cetak Sawah 2026 di Depok

Thursday, 14 May 2026 - 09:32 WITA

Usaha Tanpa Papan Nama: Menangkap Denyut Ekonomi “Ghaib” di Balik Layar Genggam

Berita Terbaru

Merauke

Ketika Tanah Adat Papua Dibuka untuk Proyek Raksasa

Wednesday, 20 May 2026 - 08:28 WITA

Rupiah Tembus Rp17.700, Tekanan Dolar Makin Agresif

Ekonomi

Rupiah Tembus Rp17.700, Tekanan Dolar Makin Agresif

Tuesday, 19 May 2026 - 13:25 WITA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa

Ekonomi

Rupiah Terpuruk dan IHSG Rontok, Pemerintah Bantah Krisis 1998

Tuesday, 19 May 2026 - 07:01 WITA