MERAUKE, Newsline.id – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, peran perempuan dalam menopang ekonomi keluarga kini semakin strategis. Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Merauke, Nova Gebze, mendorong kaum perempuan di Merauke agar berani mengambil peluang di dunia digital demi membangun kemandirian finansial.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka Workshop Perempuan Mandiri Finansial di Era Digital bertema “Dompet Terjaga, Jualan Meraja, Keluarga Sejahtera” yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Merauke, Rabu (13/5/2026).
“Sekarang perempuan harus mengikuti perkembangan zaman. Tidak perlu muluk-muluk, cukup dari HP saja sebenarnya sudah bisa menghasilkan uang,” ujar Nova dalam arahannya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Transformasi Ibu Rumah Tangga Menjadi Pelaku Usaha Digital
Menurut Nova, telepon genggam kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi telah berubah menjadi sarana usaha yang mampu membantu meningkatkan ekonomi keluarga.
Ia mengapresiasi mulai tumbuhnya kesadaran perempuan di Merauke yang memanfaatkan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook untuk memasarkan produk rumahan secara mandiri.
Meski demikian, ia menilai sebagian besar pelaku usaha perempuan masih menjalankan promosi secara sederhana. Karena itu, workshop tersebut diharapkan mampu membuka wawasan baru bagi kaum perempuan, khususnya pelaku UMKM, agar lebih memahami strategi pemasaran digital yang efektif dan menarik.
“Kami ingin para ibu memiliki wawasan lebih, terutama bagaimana membuat promosi yang menarik agar jangkauan pasar mereka bisa lebih luas,” katanya.
Nova menilai perempuan saat ini tidak lagi hanya berperan mengurus rumah tangga, tetapi juga menjadi salah satu penggerak ketahanan ekonomi keluarga. Karena itu, kemampuan memahami digital marketing dan pengelolaan keuangan menjadi semakin penting di tengah perubahan zaman.
Soroti Hambatan bagi Usaha Mikro Rumahan
Dalam kesempatan tersebut, Nova juga menyoroti fenomena usaha rumahan tanpa toko fisik maupun papan nama yang kini mulai banyak dijalankan masyarakat.
Menurutnya, usaha kecil seperti itu justru perlu diberikan ruang untuk tumbuh tanpa dibebani aturan yang terlalu berat di tahap awal merintis usaha.
“Jangan sampai masyarakat merasa berat untuk berusaha karena terlalu banyak biaya atau aturan. Yang penting mereka mau mulai dulu, itu yang harus kita jaga,” tegasnya.
Pernyataan itu sekaligus menggambarkan realitas baru ekonomi masyarakat, di mana banyak usaha kini lahir dari rumah-rumah sederhana dan berkembang melalui media sosial tanpa harus memiliki kios maupun ruko.
Literasi Finansial dan Digital Jadi Kunci
Sementara itu, narasumber workshop, Dodi Hironimus Amalongi, menilai salah satu kesalahan paling umum yang masih dilakukan pelaku UMKM pemula adalah mencampur uang usaha dengan keuangan keluarga.
“Kunci usaha yang sehat adalah literasi finansial. Pisahkan kantong pribadi dan kantong bisnis,” jelasnya.
Dodi menjelaskan bahwa di era digital saat ini, keterbatasan modal bukan lagi hambatan utama untuk memulai usaha. Menurutnya, sistem pemasaran berbasis media sosial dan pre-order justru membuka peluang besar bagi generasi muda maupun ibu rumah tangga untuk menjalankan usaha dari rumah.
“Sekarang cukup buat konten, posting, cari peminat lewat sistem pre-order, baru produksi. Banyak mahasiswa di Merauke sudah mulai melakukan itu,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh penjualan awal, tetapi juga kemampuan menjaga kepuasan pelanggan agar mau merekomendasikan produk kepada orang lain.
Di tengah berkembangnya ekonomi digital, workshop tersebut menjadi pengingat bahwa peluang usaha kini tidak selalu dimulai dari modal besar, melainkan dari keberanian membaca peluang dan kemauan untuk terus belajar mengikuti perkembangan zaman.









