YOGYAKARTA, Newsline.id – Pengurus Daerah Muaythai Daerah Istimewa Yogyakarta (Pengda DIY) akhirnya angkat bicara terkait dinamika internal yang terjadi di tubuh Pengurus Besar Muaythai Indonesia (PBMI). Pengda DIY secara tegas menyatakan dukungan kepada Nadiem Al Farrel untuk membawa perubahan dan pembenahan organisasi demi masa depan Muaythai Indonesia yang lebih baik.
Menurut Pengda DIY, polemik bermula dari munculnya dualisme birokrasi di lingkungan organisasi. Awalnya dinamika internal hanya melibatkan segelintir pihak, namun kemudian berkembang menjadi gerakan yang dinilai berupaya mengambil alih kepengurusan definitif yang sah dan telah diakui oleh KONI DIY.
“Pada awalnya kami memilih diam karena berharap persoalan dapat selesai secara internal dan organisasi kembali kondusif. Namun yang terjadi justru dinamika semakin terbuka, sistematis, dan mulai mengganggu jalannya pembinaan,” ujar perwakilan Pengda DIY.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai bentuk tanggung jawab organisasi, Pengda DIY mengaku telah tiga kali melakukan pemaparan resmi di hadapan KONI DIY guna menjelaskan legalitas kepengurusan definitif beserta seluruh aktivitas organisasi yang selama ini berjalan secara sah.
Dalam kesempatan tersebut, Pengda DIY menyerahkan berbagai dokumen kegiatan mulai dari Pra Musda, Musda, Kejurda, Rakerda, eksibisi Porda hingga program pembinaan atlet dan workshop yang selama ini dilaksanakan secara aktif dan berkelanjutan.
Pengda DIY menilai langkah tersebut menjadi bukti bahwa kepengurusan definitif tetap bekerja dan menjalankan roda organisasi secara nyata, bukan sekadar klaim administratif di atas kertas.
Di sisi lain, Pengda DIY juga menyoroti terbitnya sejumlah surat keputusan yang dinilai menimbulkan polemik di internal organisasi.
Salah satunya adalah Surat Nomor: 029/PB.MI/II/2026 tentang Pemberhentian Tugas Jabatan Ketua Pengda DIY yang ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal PBMI, Azwan Karim.
Selain itu, terbit pula Surat Nomor: 050/PB.MI/III/2026 tentang Pemberhentian Sementara Pengurus Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum PBMI, La Nyalla Mattalitti.
Pengda DIY menilai sejumlah keputusan tersebut memunculkan pertanyaan di internal organisasi karena dianggap tidak sesuai dengan mekanisme organisasi serta bertentangan dengan AD/ART yang berlaku.
Konflik berkepanjangan itu kini disebut mulai berdampak langsung terhadap pembinaan organisasi di daerah. Dari sejumlah pengurus cabang yang sebelumnya aktif, kini hanya tersisa dua pengcab yang masih bertahan menjalankan aktivitas organisasi.
Tak hanya itu, beberapa pengurus definitif juga mengaku mendapat tekanan dan intimidasi melalui pesan WhatsApp selama dinamika organisasi berlangsung.
“Yang paling dirugikan dalam situasi ini adalah atlet. Organisasi seharusnya menjadi rumah pembinaan dan prestasi, bukan arena konflik yang berkepanjangan,” tegasnya.
Pengda DIY menilai PBMI membutuhkan kepemimpinan yang mampu meredam konflik, mengedepankan transparansi, serta fokus membangun prestasi atlet, bukan memperbesar perpecahan di internal organisasi.
Karena itu, dukungan terhadap Nadiem Al Farrel disebut sebagai bentuk harapan lahirnya perubahan baru di tubuh PBMI, terutama dalam menciptakan organisasi yang profesional, sehat, terbuka, dan berpihak kepada pembinaan atlet di seluruh daerah.
Pengda DIY berharap seluruh dinamika yang terjadi dapat diselesaikan secara bijaksana melalui mekanisme organisasi yang sesuai aturan demi menjaga persatuan insan Muaythai Indonesia serta memastikan pembinaan atlet tetap berjalan dengan baik di seluruh daerah.









