Tak Lagi Sekadar Dualisme, Kubu La Nyalla Dihantam Krisis Kepercayaan

Monday, 11 May 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, Newsline.id – Polemik di tubuh Pengurus Besar Muaythai Indonesia (PB MI) kini berkembang jauh melampaui sekadar persoalan dualisme organisasi. Setelah sebelumnya publik menyoroti struktur kepengurusan yang dinilai “mini” serta berbagai catatan administratif dalam Surat Keputusan (SK) kepengurusan PB MI versi La Nyalla Mahmud Mattalitti, kini satu per satu persoalan internal mulai mencuat ke permukaan.

Tidak lagi hanya menyangkut konflik elite organisasi, polemik PB MI kini menyentuh isu yang lebih sensitif: pembinaan atlet, mekanisme organisasi, transparansi keuangan, hingga dugaan ketidakadilan terhadap daerah tertentu.

Sedikitnya 30 Pengurus Provinsi (Pengprov) sebelumnya dikabarkan mengajukan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan PB Muaythai Indonesia versi La Nyalla Mahmud Mattalitti. Namun pasca mosi tersebut mencuat, sejumlah Pengprov justru disebut menerima teguran tertulis hingga pemberhentian dari kepengurusan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai pengganti, pengurus pusat kemudian menunjuk Pelaksana Tugas (Plt) di sejumlah daerah tanpa memberikan teguran lisan maupun tertulis kepada Pengprov yang ajukan mosi tidak percaya. Langkah tersebut memicu kontroversi karena dilakukan tidak lama setelah munculnya gelombang kritik dari daerah terhadap kepemimpinan organisasi.

Polemik semakin berkembang setelah para Plt tersebut dilibatkan dalam agenda strategis organisasi seperti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Musyawarah Nasional (Munas) yang digelar dalam rentang waktu relatif singkat. Kondisi itu memunculkan pertanyaan di kalangan daerah terkait arah konsolidasi organisasi yang sedang dibangun pengurus pusat.

Baca Juga  Harga BBM Nonsubsidi Naik Tajam, Pertamax Turbo Tembus Rp19.400

Sejumlah pengurus daerah bahkan menilai penunjukan Plt tidak lagi sekadar langkah administratif organisasi, melainkan mulai dipandang sebagai bagian dari pertarungan legitimasi kepemimpinan di tingkat nasional.

Sorotan terhadap dinamika tersebut tidak hanya datang dari Papua, Aceh, Sumatera Selatan, dan Jawa Tengah, tetapi juga mulai menyeret isu pembinaan atlet di Papua Tengah.

Pengprov Muaythai Papua Tengah disebut pernah mengajukan surat permohonan izin mengikuti Kejuaraan Khun Khmer di Makassar pada Desember 2025 sebagai bagian dari try out atlet. Namun permohonan tersebut dikabarkan tidak mendapat persetujuan dari PB Muaythai Indonesia.

Kondisi itu kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan daerah karena pada beberapa agenda sebelumnya atlet dari Jawa Barat diketahui tetap mengikuti sejumlah Kejuaraan Khun Khmer, termasuk Kejuaraan Dunia Khun Khmer Junior 2025 dengan status mewakili Indonesia, tanpa adanya larangan dari pengurus pusat.

Perbedaan perlakuan tersebut memicu dugaan adanya standar kebijakan yang tidak diterapkan secara merata terhadap seluruh daerah dan atlet.

Sorotan berikutnya mengarah pada dugaan penyimpangan terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.

Beberapa pengurus daerah menyebut pergantian sejumlah pejabat inti dilakukan tanpa mekanisme rapat pleno sebagaimana lazim diterapkan dalam organisasi modern. Pergantian posisi Sekretaris Jenderal yang disebut terjadi hingga dua kali dalam satu tahun turut menjadi perhatian internal.

Baca Juga  ‎Atlet Taekwondo Kabupaten Gorontalo Gondol 7 Medali Di ajang Kejurnas Banten. Nawir: Harumkan Nama Daerah

Pelaksanaan Rakernas tahun 2025 juga dipersoalkan karena dinilai tidak berjalan sesuai ketentuan Anggaran Rumah Tangga organisasi.

Akumulasi persoalan tersebut mulai memunculkan pertanyaan lebih besar: apakah tata kelola PB Muaythai Indonesia versi La Nyalla Mahmud Mattalitti masih berjalan dalam koridor organisasi yang sehat, atau justru mulai bergerak menuju pola pengambilan keputusan yang semakin terpusat.

Transparansi Keuangan Jadi Sorotan

Tidak hanya aspek organisasi dan pembinaan atlet, pengelolaan keuangan PB MI juga mulai dipertanyakan sejumlah pihak.

Beberapa pengurus menyebut laporan keuangan organisasi tidak pernah dipaparkan secara terbuka dalam forum Rakernas.

Kondisi serupa disebut terjadi dalam pelaksanaan Training Center (TC) menuju SEA Games, di mana sebagian pembiayaan justru ditanggung secara mandiri oleh atlet, Pengprov, maupun Pengcab.

Akibatnya, kualitas pembinaan dinilai tidak berjalan merata dan sangat bergantung pada kemampuan finansial masing-masing daerah.

“Pada akhirnya atlet yang menjadi korban. Kesempatan tampil di level internasional seolah bergantung pada kemampuan biaya daerah,” ujar salah satu sumber internal organisasi.

Wasit, Pelatih, hingga Daerah Ikut Bersuara

Sorotan juga datang dari kalangan perwasitan. Sejumlah wasit disebut belum menerima honor maupun penggantian transportasi saat bertugas dalam beberapa agenda seleksi nasional dan kejuaraan nasional sejak tahun 2022 hingga 2024.

Sebelumnya, polemik PB Muaythai Indonesia juga sempat mendapat perhatian dari Aceh. Guru Besar Muaythai Aceh, Syarwan Saleh, pernah meminta pihak-pihak yang berkonflik di tubuh PB Muaythai Indonesia mengedepankan sikap legowo demi menjaga masa depan atlet dan organisasi.

Baca Juga  Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Mental: Terbukti Mengurangi Stres & Cemas

Di Sumatera Selatan, persoalan administrasi organisasi bahkan disebut berdampak pada tidak dapat ikut sertanya cabang olahraga Muaythai dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi karena belum terbitnya SK definitif kepengurusan daerah.

Sorotan terhadap dinamika organisasi ini juga mulai terdengar dari Jawa Tengah. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa polemik PB Muaythai Indonesia tidak lagi dipandang sebagai konflik terbatas di tingkat pusat, melainkan mulai berdampak terhadap stabilitas organisasi dan pembinaan olahraga di daerah.

Di tengah terus menguatnya suara kritis dari sedikitnya 30 Pengurus Provinsi, konflik di tubuh PB Muaythai Indonesia kini tidak lagi dipandang sekadar dinamika internal organisasi. Besarnya jumlah daerah yang menyatakan keberatan mulai memunculkan pertanyaan serius mengenai legitimasi kepemimpinan dan arah masa depan organisasi.

Dalam tata kelola olahraga modern, kepemimpinan organisasi tidak lagi hanya diukur dari jabatan dan struktur, melainkan dari kemampuan menjaga kepercayaan daerah, atlet, dan insan olahraga itu sendiri. Karena itu, muncul kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan di tubuh PB Muaythai Indonesia versi La Nyalla Mahmud Mattalitti justru akan meninggalkan catatan buruk dalam sejarah pembinaan Muaythai Indonesia.

Berita Terkait

Kepengurusan ‘Mini’ PB Muaythai Indonesia Tuai Sorotan
Ribuan Lowongan Mitra BPS Dibuka, Warga Berebut Peluang Sensus 2026
Sering Fotokopi KTP? Pemerintah Mulai Soroti Risiko Penyalahgunaan Data
Harga Asli Pertalite Disebut Rp16 Ribu, Publik Mulai Pertanyakan Subsidi BBM
Polri Buru Bos Judi Online Usai Tangkap 321 WNA di Jakarta Barat
Potongan Tarif Ojol Ditargetkan Turun Juni 2026, Prabowo Minta di Bawah 10 Persen
MALAM KELAM DI PAPUA BANGKIT: Kegagalan Promosi, Kericuhan Suporter, dan Misteri Matinya CCTV
Lingkaran Setan Konflik Organisasi: Setelah PSSI dan Muaythai, Siapa Menyusul?
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Monday, 11 May 2026 - 20:11 WITA

Tak Lagi Sekadar Dualisme, Kubu La Nyalla Dihantam Krisis Kepercayaan

Monday, 11 May 2026 - 13:16 WITA

Kepengurusan ‘Mini’ PB Muaythai Indonesia Tuai Sorotan

Monday, 11 May 2026 - 10:07 WITA

Ribuan Lowongan Mitra BPS Dibuka, Warga Berebut Peluang Sensus 2026

Sunday, 10 May 2026 - 18:50 WITA

Sering Fotokopi KTP? Pemerintah Mulai Soroti Risiko Penyalahgunaan Data

Sunday, 10 May 2026 - 14:09 WITA

Polri Buru Bos Judi Online Usai Tangkap 321 WNA di Jakarta Barat

Berita Terbaru

Jakarta

Kepengurusan ‘Mini’ PB Muaythai Indonesia Tuai Sorotan

Monday, 11 May 2026 - 13:16 WITA