Jakarta, Newsline.id – Publik olahraga nasional tampaknya mulai mencapai titik jenuh. Alih-alih merayakan prestasi di podium, masyarakat justru lebih sering disuguhi drama ruang sidang: pencopotan pengurus, penunjukan Pelaksana Tugas (Plt), hingga tarik-menarik legalitas yang melelahkan.
Nama La Nyalla Mattalitti kembali menjadi sorotan di tengah pusaran ini. Publik tentu memiliki hak untuk bertanya: mengapa di bawah kepemimpinan yang seharusnya menghadirkan stabilitas, justru kegaduhan demi kegaduhan lebih sering menyeruak ke permukaan?
Dari kemelut panjang PSSI di masa lalu hingga gejolak di tubuh PB Muaythai Indonesia saat ini, pola yang tersaji terasa nyaris identik. Ini bukan lagi sekadar dinamika organisasi yang sehat, melainkan pola kepemimpinan yang mulai terbaca jelas oleh publik.
Ironisnya, di tengah semangat demokrasi organisasi, kritik kerap diposisikan sebagai ancaman ketimbang ruang evaluasi. Padahal organisasi olahraga bukanlah “kerajaan” milik segelintir elite. Nafas organisasi justru hidup dari keringat atlet di lapangan, dedikasi pelatih di sasana, serta kerja keras pengurus daerah yang sering kali terlupakan di tengah perebutan pengaruh di tingkat pusat.
Seorang pemimpin visioner seharusnya dikenang karena warisan prestasi dan persatuan, bukan karena jejak konflik yang terus diwariskan dari satu periode ke periode berikutnya. Kekuasaan, setinggi apa pun, pada akhirnya memiliki batas waktu. Namun cara kekuasaan itu dijalankan akan selalu tertinggal dalam ingatan publik.
Jika setiap perbedaan pendapat terus berujung pada pencopotan, tekanan struktural, atau polemik berkepanjangan, maka wajar bila muncul keresahan kolektif: setelah PSSI dan Muaythai, organisasi mana lagi yang akan terseret dalam gejolak serupa?
Barangkali, persoalannya bukan semata pada organisasinya, melainkan pada cara kepemimpinan itu dijalankan. Sebab olahraga tidak dibangun dengan ketegangan yang terus dipelihara, melainkan dengan rasa saling percaya, musyawarah, dan persatuan.
Sebelum olahraga nasional semakin tertinggal, mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya “siapa yang memimpin”, lalu mulai bertanya: “bagaimana cara mereka memimpin?”










