JAKARTA,newsline.id — Perdebatan soal subsidi bahan bakar minyak kembali meledak di media sosial. Kali ini, perhatian publik tertuju pada satu pertanyaan yang terus ramai dibahas: mengapa Pertalite mendapat subsidi besar, sementara Pertamax yang kualitasnya lebih tinggi justru tidak?
Diskusi itu mencuat setelah beredar informasi bahwa harga keekonomian Pertalite sebenarnya berada di kisaran Rp16 ribuan per liter. Namun pemerintah menjual BBM RON 90 tersebut sekitar Rp10 ribu per liter karena disubsidi negara.
Di sisi lain, Pertamax dengan kualitas lebih baik atau RON 92 dijual tanpa subsidi dengan harga sekitar Rp12 ribu hingga Rp13 ribuan per liter.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selisih harga yang dianggap tidak terlalu jauh langsung memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat.
“Kalau beda harganya tipis, kenapa subsidi tidak diberikan ke BBM yang lebih bagus?” menjadi pertanyaan yang ramai memenuhi media sosial.
Tak sedikit warganet mengaku baru menyadari bahwa subsidi Pertalite disebut mencapai ribuan rupiah per liter. Sebagian bahkan menilai pola subsidi saat ini membuat masyarakat terus bergantung pada BBM kualitas rendah.
Padahal, kendaraan modern disebut lebih cocok menggunakan BBM dengan oktan lebih tinggi karena pembakaran lebih sempurna, mesin lebih awet dan emisi lebih rendah.
Perdebatan itu kemudian berkembang menjadi isu yang lebih besar: apakah subsidi BBM selama ini benar-benar tepat sasaran?
Di satu sisi, pemerintah mempertahankan subsidi Pertalite demi menjaga daya beli masyarakat. Jutaan pengendara motor, angkutan umum hingga pelaku usaha kecil masih sangat bergantung pada BBM subsidi untuk aktivitas harian mereka.
Jika subsidi dicabut, harga Pertalite diperkirakan bisa melonjak mengikuti harga pasar dunia. Dampaknya bukan hanya dirasakan pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan ongkos transportasi dan harga kebutuhan pokok.
Namun di sisi lain, sebagian masyarakat mulai mempertanyakan mengapa negara terus menghabiskan anggaran besar untuk mempertahankan BBM dengan kualitas lebih rendah.
Isu ini juga menyeret pembahasan soal polusi udara, kualitas kendaraan hingga arah transisi energi Indonesia ke depan.
Pengamat energi menilai pemerintah kini berada di posisi sulit. Negara harus menjaga stabilitas ekonomi masyarakat, tetapi juga didorong mempercepat penggunaan energi yang lebih bersih dan efisien.
Karena itu, polemik Pertalite dan Pertamax kini bukan lagi sekadar soal harga di SPBU. Perdebatan tersebut mulai menyentuh isu subsidi negara, keadilan energi, lingkungan hingga masa depan kebijakan BBM nasional.
Dan sampai sekarang, satu pertanyaan itu masih terus bergema di tengah publik: mengapa BBM yang lebih bagus justru tidak disubsidi?









