Bertaruh Modal di Lapak Nyaris Roboh: Kisah Mama Erma Sekolahkan Anak dari Kepiting Rawa

Friday, 22 May 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MERAUKE, Newsline.id — Di sebuah lapak sederhana di Jalan Sesate, Kabupaten Merauke, Mama Erma Asogomes menyusun kepiting rawa dagangannya di bawah atap bangunan yang miring dan nyaris roboh. Tempat itu bukan sekadar lokasi berjualan, tetapi menjadi sumber harapan bagi Mama Erma dan mama-mama Papua lainnya untuk membiayai kehidupan dan pendidikan anak-anak mereka.

Menjadi pedagang kepiting di Merauke bukan pekerjaan mudah. Untuk mendapatkan hasil tangkapan, mama-mama Papua ini harus patungan menyewa mobil menuju wilayah Kumbe 1 dan Kumbe 2 dengan biaya sekitar Rp300 ribu pulang-pergi.

Jika ingin hasil lebih banyak, mereka harus mencari hingga Tomerau di belakang Kampung Kondo dan rela bermalam hingga dua hari karena jarak yang jauh.

Namun perjuangan itu tidak selalu sebanding dengan hasil yang diperoleh. Mama Erma mengaku harga dari pengepul sering kali rendah. Satu karung kepiting kadang hanya dihargai Rp300 ribu hingga Rp700 ribu.

Karena itu, mereka memilih menjual sendiri secara eceran dengan harga Rp10 ribu hingga Rp70 ribu per ekor, tergantung ukuran. Dari hasil jualan tersebut, keuntungan bersih yang didapat berkisar Rp80 ribu hingga Rp200 ribu per hari, meski terkadang mereka pulang tanpa membawa hasil.

“Hari ini hampir lagi kami pulang kosong, untung ada bapak kepala dinas datang beli,” ujar Mama Erma saat ditemui menjelang matahari terbenam.

Baca Juga  PEMBANGUNAN PAPUA DAN HAK ADAT:Membaca Pesan Dedi Mulyadi dari Perspektif Konstitusi

Lapak yang mereka tempati diketahui telah dibangun sejak masa mantan Bupati Merauke, Frederikus Gebze dan sempat diperbaiki kembali pada era Romanus Mbaraka. Namun seiring waktu, bangunan tersebut mulai rusak dan kerap dipakai anak-anak muda untuk mabuk-mabukan.

Kondisi semakin sulit karena lokasi jualan juga minim penerangan. Saat sore menjelang malam, kawasan itu mulai gelap sehingga mama-mama penjual kepiting terpaksa menutup jualan lebih cepat.

Padahal, waktu menjelang malam sering menjadi harapan datangnya pembeli.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan ketidakpastian penghasilan, mama-mama Papua itu tetap bertahan berdagang demi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anak mereka.

 

 

Berita Terkait

BPJS Ketenagakerjaan Sosialisasikan Perlindungan bagi Petugas Sensus Ekonomi 2026 di Merauke
BPS Merauke Siapkan 248 Petugas Sensus Ekonomi 2026, Libatkan Pemuda Papua dalam Pendataan
PEMBANGUNAN PAPUA DAN HAK ADAT:Membaca Pesan Dedi Mulyadi dari Perspektif Konstitusi
Merauke Dominasi Jumlah Hewan Kurban di Papua Selatan
Polemik Film Dokumenter “Pesta Babi”: Antara Ruang Bersuara dan Harapan Masyarakat Adat
Dari Ranting Kayu ke Facebook: Ekonomi Kecil yang Lama Tak Terlihat
Dari Pedagang Keliling hingga Content Creator: Wajah Baru Sensus Ekonomi 2026
Server Rekrutmen Petugas Sensus Ekonomi 2026 Sempat Bermasalah akibat Pendaftaran Serentak
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Tuesday, 2 June 2026 - 19:20 WITA

BPJS Ketenagakerjaan Sosialisasikan Perlindungan bagi Petugas Sensus Ekonomi 2026 di Merauke

Tuesday, 2 June 2026 - 18:22 WITA

BPS Merauke Siapkan 248 Petugas Sensus Ekonomi 2026, Libatkan Pemuda Papua dalam Pendataan

Sunday, 31 May 2026 - 07:47 WITA

PEMBANGUNAN PAPUA DAN HAK ADAT:Membaca Pesan Dedi Mulyadi dari Perspektif Konstitusi

Wednesday, 27 May 2026 - 10:01 WITA

Merauke Dominasi Jumlah Hewan Kurban di Papua Selatan

Tuesday, 26 May 2026 - 20:23 WITA

Polemik Film Dokumenter “Pesta Babi”: Antara Ruang Bersuara dan Harapan Masyarakat Adat

Berita Terbaru

Jefry Rumampuk, Jurnalis Korban Pembacokan beberapa tahun lalu

Gorontalo

Korban Pembacokan Jurnalis Minta Rusli Habibie Buka Suara

Tuesday, 9 Jun 2026 - 08:54 WITA