Ekonomi di Garis Batas: Cerita dari Sota dalam Sensus Ekonomi 2026

Monday, 4 May 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemeriksaan Barang dan Pas Jalan Warga PNG oleh Petugas Indonesia

Pemeriksaan Barang dan Pas Jalan Warga PNG oleh Petugas Indonesia

MERAUKE,newsline.id — Matahari pagi belum sepenuhnya meninggi saat aktivitas mulai menggeliat di wilayah perbatasan Indonesia–Papua Nugini, tepatnya di Distrik Sota, Kabupaten Merauke. Di kawasan ini, puluhan warga melintasi batas negara setiap harinya, membawa hasil bumi untuk dijual dan memenuhi kebutuhan hidup.

Bagi masyarakat di kawasan perbatasan, negara bukan sekadar batas administrasi, melainkan ruang hidup yang mempertemukan peluang dan keterbatasan. Kedekatan geografis membuka interaksi ekonomi lintas batas, namun akses terhadap layanan ekonomi formal masih terbatas.

Perjalanan menuju kawasan perbatasan tidak selalu mudah. Warga dari kampung-kampung di Papua Nugini seperti Kiriwo, Mohed, Suki, dan Farwa harus menempuh perjalanan panjang yang dalam kondisi tertentu dapat memakan waktu berhari-hari, terutama saat musim hujan. Kondisi tanah di wilayah selatan Papua yang cenderung lengket membuat perjalanan menjadi jauh lebih berat, bahkan hingga harus bermalam di tengah perjalanan.

Sementara itu, kampung terdekat seperti Wayaber dapat dijangkau dalam waktu sekitar satu hingga tiga jam dengan berjalan kaki.

Aktivitas lintas batas di Pos Lintas Batas Negara Sota berlangsung mengikuti jam operasional pada hari kerja. Dalam kondisi cuaca cerah, jumlah pelintas dapat mencapai 50 hingga 80 orang per hari.

Sebagian besar warga Papua Nugini datang dengan membawa hasil bumi seperti kelapa, ubi, daging rusa, hingga gelembung ikan kakap. Hasil tersebut umumnya dijual terlebih dahulu kepada pedagang atau penadah di wilayah Indonesia, sebelum digunakan untuk membeli kebutuhan pokok.

“Kalau tidak ke Sota, kami sulit dapat beras dan minyak,” ujar seorang warga Papua Nugini yang ditemui di lokasi.

Di tingkat pedagang lokal, transaksi berlangsung dalam skala kecil namun rutin. Ahmad Hidaya, pemilik Kios Syakila di Sota, menyebut harga beras berkisar antara Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram, minyak goreng Rp24.000 per liter, mi instan Rp120.000 hingga Rp125.000 per karton, serta telur sekitar Rp3.000 per butir.

Baca Juga  Pemutakhiran Data Indeks Desa Tahun 2026: Fondasi Pembangunan Desa Masyarakat Yang Akurat Dan Berkelanjutan

Data Badan Pusat Statistik secara nasional menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen unit usaha di Indonesia berada pada skala mikro dan kecil, dengan sebagian besar beroperasi secara informal.

Melalui Sensus Ekonomi 2026, pendataan menyeluruh dilakukan terhadap berbagai aktivitas usaha, baik formal maupun informal, guna memperoleh gambaran struktur ekonomi yang lebih utuh di berbagai wilayah, termasuk kawasan perbatasan.

Di wilayah seperti Sota, aktivitas ekonomi skala kecil dan perdagangan lintas batas menjadi bagian penting dalam melengkapi gambaran ekonomi masyarakat, khususnya yang berbasis kebutuhan sehari-hari.

Faktor geografis, keterbatasan infrastruktur, serta pola transaksi yang masih sederhana menjadi tantangan tersendiri dalam memahami dinamika ekonomi di wilayah perbatasan.

Di tengah aktivitas tersebut, Pos Lintas Batas Negara Sota juga menyediakan layanan kesehatan gratis bagi warga Papua Nugini yang melintas sebagai bagian dari pelayanan dasar di kawasan perbatasan.

Baca Juga  Potensi Besar Komoditas Mineral dan Batubara Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Sore hari, para pelintas kembali ke wilayah Papua Nugini dengan membawa kebutuhan pokok. Aktivitas ini berlangsung berulang setiap pekan, menjadi bagian dari strategi bertahan hidup masyarakat di kawasan perbatasan.

Dalam konteks Sensus Ekonomi 2026, wilayah perbatasan seperti Sota menjadi penting untuk memotret aktivitas ekonomi yang berlangsung di luar pusat-pusat pertumbuhan. Data yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Perbatasan bukan sekadar garis pemisah, melainkan ruang interaksi ekonomi yang mempertemukan dua sistem dalam praktik sehari-hari.

Bagi masyarakat di kawasan ini, aktivitas lintas batas bukan sekadar rutinitas, melainkan strategi bertahan hidup di tengah keterbatasan. Melalui Sensus Ekonomi 2026, aktivitas yang selama ini berlangsung di ruang-ruang pinggiran diharapkan tidak lagi terlewatkan, tetapi tercatat sebagai bagian penting dari potret ekonomi nasional. (FHS)

Berita Terkait

Deputi BPS RI Turun Langsung ke Lapangan, Supervisi Sensus Ekonomi 2026 di Merauke
Edaran Gubernur Papua Selatan Mulai Berdampak, Antrean BBM Subsidi di SPBU Ahmad Yani Merauke Berkurang Drastis
Keterbukaan dari Balik Aula: Bagaimana Desa Natakoli Mengawal Setiap Rupiah Modal BUM Desa
Transparansi Anggaran: Pemdes Natakoli Bedah Mendalam Laporan Keuangan Semester I BUM Desa “Sina Rua Bersinar”
Kawal Dana Ketahanan Pangan, Pemdes Natakoli Telaah Seksama LPJ BUM Desa “Sina Rua Bersinar”
Menko Pangan Serap Aspirasi Daerah, Percepat KSPEAN Papua Selatan Jadi Pusat Pertumbuhan Baru Indonesia Timur
Bupati Merauke Dukung Penuh Sensus Ekonomi 2026, Instruksikan Seluruh Jajaran Terima Petugas BPS
Bupati Merauke Sambut Delegasi Indonesia–Australia, Dorong Pencegahan Nelayan Masuk Perairan Australia Secara Ilegal
Berita ini 110 kali dibaca

Berita Terkait

Monday, 10 August 2026 - 09:12 WITA

Deputi BPS RI Turun Langsung ke Lapangan, Supervisi Sensus Ekonomi 2026 di Merauke

Wednesday, 5 August 2026 - 09:04 WITA

Edaran Gubernur Papua Selatan Mulai Berdampak, Antrean BBM Subsidi di SPBU Ahmad Yani Merauke Berkurang Drastis

Thursday, 16 July 2026 - 22:22 WITA

Keterbukaan dari Balik Aula: Bagaimana Desa Natakoli Mengawal Setiap Rupiah Modal BUM Desa

Thursday, 16 July 2026 - 10:10 WITA

Transparansi Anggaran: Pemdes Natakoli Bedah Mendalam Laporan Keuangan Semester I BUM Desa “Sina Rua Bersinar”

Thursday, 16 July 2026 - 09:15 WITA

Kawal Dana Ketahanan Pangan, Pemdes Natakoli Telaah Seksama LPJ BUM Desa “Sina Rua Bersinar”

Berita Terbaru

Kepulauan Talaud

Polres Talaud Gelar Apel Pasukan Tanggap Bencana Dampak El Nino

Saturday, 8 Aug 2026 - 21:46 WITA