MERAUKE,newsline.id — Matahari pagi belum sepenuhnya meninggi saat aktivitas mulai menggeliat di wilayah perbatasan Indonesia–Papua Nugini, tepatnya di Distrik Sota, Kabupaten Merauke. Di kawasan ini, puluhan warga melintasi batas negara setiap harinya, membawa hasil bumi untuk dijual dan memenuhi kebutuhan hidup.
Bagi masyarakat di kawasan perbatasan, negara bukan sekadar batas administrasi, melainkan ruang hidup yang mempertemukan peluang dan keterbatasan. Kedekatan geografis membuka interaksi ekonomi lintas batas, namun akses terhadap layanan ekonomi formal masih terbatas.
Perjalanan menuju kawasan perbatasan tidak selalu mudah. Warga dari kampung-kampung di Papua Nugini seperti Kiriwo, Mohed, Suki, dan Farwa harus menempuh perjalanan panjang yang dalam kondisi tertentu dapat memakan waktu berhari-hari, terutama saat musim hujan. Kondisi tanah di wilayah selatan Papua yang cenderung lengket membuat perjalanan menjadi jauh lebih berat, bahkan hingga harus bermalam di tengah perjalanan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, kampung terdekat seperti Wayaber dapat dijangkau dalam waktu sekitar satu hingga tiga jam dengan berjalan kaki.
Aktivitas lintas batas di Pos Lintas Batas Negara Sota berlangsung mengikuti jam operasional pada hari kerja. Dalam kondisi cuaca cerah, jumlah pelintas dapat mencapai 50 hingga 80 orang per hari.
Sebagian besar warga Papua Nugini datang dengan membawa hasil bumi seperti kelapa, ubi, daging rusa, hingga gelembung ikan kakap. Hasil tersebut umumnya dijual terlebih dahulu kepada pedagang atau penadah di wilayah Indonesia, sebelum digunakan untuk membeli kebutuhan pokok.
“Kalau tidak ke Sota, kami sulit dapat beras dan minyak,” ujar seorang warga Papua Nugini yang ditemui di lokasi.
Di tingkat pedagang lokal, transaksi berlangsung dalam skala kecil namun rutin. Ahmad Hidaya, pemilik Kios Syakila di Sota, menyebut harga beras berkisar antara Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram, minyak goreng Rp24.000 per liter, mi instan Rp120.000 hingga Rp125.000 per karton, serta telur sekitar Rp3.000 per butir.
Data Badan Pusat Statistik secara nasional menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen unit usaha di Indonesia berada pada skala mikro dan kecil, dengan sebagian besar beroperasi secara informal.
Melalui Sensus Ekonomi 2026, pendataan menyeluruh dilakukan terhadap berbagai aktivitas usaha, baik formal maupun informal, guna memperoleh gambaran struktur ekonomi yang lebih utuh di berbagai wilayah, termasuk kawasan perbatasan.
Di wilayah seperti Sota, aktivitas ekonomi skala kecil dan perdagangan lintas batas menjadi bagian penting dalam melengkapi gambaran ekonomi masyarakat, khususnya yang berbasis kebutuhan sehari-hari.
Faktor geografis, keterbatasan infrastruktur, serta pola transaksi yang masih sederhana menjadi tantangan tersendiri dalam memahami dinamika ekonomi di wilayah perbatasan.
Di tengah aktivitas tersebut, Pos Lintas Batas Negara Sota juga menyediakan layanan kesehatan gratis bagi warga Papua Nugini yang melintas sebagai bagian dari pelayanan dasar di kawasan perbatasan.
Sore hari, para pelintas kembali ke wilayah Papua Nugini dengan membawa kebutuhan pokok. Aktivitas ini berlangsung berulang setiap pekan, menjadi bagian dari strategi bertahan hidup masyarakat di kawasan perbatasan.
Dalam konteks Sensus Ekonomi 2026, wilayah perbatasan seperti Sota menjadi penting untuk memotret aktivitas ekonomi yang berlangsung di luar pusat-pusat pertumbuhan. Data yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Perbatasan bukan sekadar garis pemisah, melainkan ruang interaksi ekonomi yang mempertemukan dua sistem dalam praktik sehari-hari.
Bagi masyarakat di kawasan ini, aktivitas lintas batas bukan sekadar rutinitas, melainkan strategi bertahan hidup di tengah keterbatasan. Melalui Sensus Ekonomi 2026, aktivitas yang selama ini berlangsung di ruang-ruang pinggiran diharapkan tidak lagi terlewatkan, tetapi tercatat sebagai bagian penting dari potret ekonomi nasional. (FHS)









