MERAUKE, Newsline.id — Dari wilayah penyangga pertanian hingga kampung-kampung di selatan Papua, gerakan membangun pembangunan berbasis data terus menyala. Tahun 2026 ini, tiga kampung di Distrik Semangga resmi masuk Program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik), memperkuat langkah Merauke menuju tata kelola pembangunan berbasis data dari tingkat akar rumput.
Tiga kampung tersebut yakni Kampung Muramsari, Kampung Kuprik, dan Kampung Sidomulyo. Pencanangan dilakukan di Merauke, Kamis (7/5/2026), sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem “Satu Data” hingga ke tingkat kampung.
Pencanangan Desa Cantik ditandai dengan komitmen bersama antara pemerintah distrik, aparat kampung, dan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Merauke untuk memperkuat tata kelola data desa yang lebih akurat, terstruktur, dan berkelanjutan
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Konsisten Berjalan Sejak 2023
Program Desa Cantik di Merauke bukan program sesaat. Inisiatif ini dimulai sejak tahun 2023 melalui Kampung Marga Mulya di Distrik Semangga sebagai kampung percontohan pertama. Program kemudian berlanjut ke Kampung Waninggap Say di Distrik Tanah Miring pada tahun 2024.
Memasuki tahun 2025, perluasan dilakukan secara lebih masif dengan mencakup seluruh kampung di Distrik Kurik. Kini pada 2026, estafet pembinaan kembali diperkuat di Distrik Semangga sebagai salah satu wilayah strategis penyangga ekonomi dan pertanian Kabupaten Merauke.
Konsistensi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan berbasis data tidak lagi dipandang sebagai program administratif semata, melainkan telah menjadi bagian penting dalam arah pembangunan daerah jangka panjang.
Kampung Tidak Lagi Jadi Objek Pendataan
Melalui pembinaan dari BPS, aparat kampung akan dibekali kemampuan mengelola data secara mandiri, mulai dari proses pengumpulan, pengolahan, hingga penyajian statistik kampung.
Transformasi ini dinilai penting karena selama ini kampung sering kali hanya menjadi objek pendataan. Lewat Program Desa Cantik, kampung didorong menjadi subjek yang mampu memahami sekaligus memanfaatkan datanya sendiri untuk kepentingan pembangunan.
Kepala BPS Kabupaten Merauke, Cendana Murti Nuryana Sri Hapsara, melalui Fungsional Statistisi Ahli Madya, Rafly Parenta Bano, mengatakan Program Desa Cantik merupakan langkah strategis untuk membangun kemandirian statistik hingga ke tingkat kampung.
“Melalui Desa Cantik, kampung tidak lagi hanya menjadi objek pendataan, tetapi mampu menjadi pengelola data yang memahami kondisi wilayahnya sendiri. Data yang baik akan melahirkan kebijakan yang tepat sasaran,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan literasi statistik di tingkat kampung juga menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 agar menghasilkan data yang akurat dan berkualitas.
Lahirnya Agen Statistik Kampung
Salah satu langkah strategis dalam program ini adalah pembentukan Agen Statistik Kampung, yakni kader lokal yang nantinya bertugas menjaga keberlanjutan pemutakhiran data di tingkat kampung.
Keberadaan agen statistik dinilai penting agar data tidak berhenti sebagai dokumen tahunan, melainkan terus diperbarui sesuai dinamika masyarakat di lapangan.
Hasil akhirnya adalah tersedianya profil kampung digital serta publikasi statistik yang lebih terbuka dan mudah diakses masyarakat sebagai bagian dari keterbukaan informasi publik.
Menjadi Penopang Sensus Ekonomi 2026
Momentum Desa Cantik tahun ini juga terasa semakin penting karena bertepatan dengan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026.
Kampung-kampung yang telah memiliki literasi statistik diharapkan mampu menjadi motor penggerak dalam mendukung kelancaran pendataan ekonomi di lapangan. Kehadiran aparatur kampung yang memahami pentingnya data diyakini dapat membantu meminimalisir kesalahan pendataan sekaligus meningkatkan kualitas informasi yang dikumpulkan.
Sinergi antara pemerintah distrik, kepala kampung, dan BPS menjadi fondasi utama agar Merauke mampu menghadirkan potret ekonomi daerah yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dari kampung-kampung di Distrik Semangga, estafet literasi data kini terus bergerak — menyala perlahan dari akar rumput, untuk menjadi kompas pembangunan di ufuk timur Indonesia.









