Jakarta, Newsline.id – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Film, Musik, dan Seni kembali menggelar acara bertajuk “Harmoni Zaman: Penyanyi Cilik Era 70-an dan 80-an” sebagai bentuk apresiasi dan pelestarian budaya musik anak-anak Indonesia. Acara ini diselenggarakan di Binakarna Ballroom, Bidakara Hotel, Jakarta, dan menghadirkan lima penyanyi cilik legendaris yang pernah mewarnai dunia musik anak: Adi Bing Slamet, Chicha Koeswoyo, Vien Is Haryanto, Iyut Bing Slamet, dan Fitria Elvy Sukaesih.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Anak Nasional 2025, sekaligus bentuk penghormatan terhadap kontribusi para musisi anak masa lalu.
“Harmoni Zaman adalah wujud penghargaan atas karya dan dedikasi para penyanyi legendaris. Mereka adalah aset bangsa yang membentuk ekosistem musik dan kebudayaan nasional,” ujar Fadli.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Acara dibuka dengan penampilan anak-anak dari Sanggar Wonderkid yang membawakan lagu “Anak Indonesia Baru”. Dilanjutkan dengan momen nostalgia, para legenda musik anak kembali membawakan lagu-lagu klasik seperti “Mama”, “Helly”, “Getuk Lindri”, “Bebek-Bebekku”, dan “Kereta Kuda”, membangkitkan kenangan bagi generasi lama dan memperkenalkan nilai-nilai edukatif kepada generasi baru.
Dalam kesempatan tersebut, plakat kehormatan dan piagam penghargaan diberikan kepada para penyanyi cilik legendaris serta Yanuar Ishak, pencipta lagu anak yang berpengaruh di era 80-an.
Turut hadir dalam acara ini sejumlah tokoh seni dan budaya, di antaranya Addie MS, Dewa Budjana, dan Komeng, serta jajaran pejabat Kementerian Kebudayaan seperti Ahmad Mahendra, Fryda Lucyana, dan Syaifullah.
Di akhir sambutannya, Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung regenerasi musik anak Indonesia.
“Semoga semakin banyak penyanyi cilik berbakat dan pencipta lagu yang menghadirkan karya-karya relevan dengan zaman. Kita harus terus bersinergi menjaga keberlanjutan musik anak sebagai bagian dari warisan budaya bangsa,” tutupnya. (**)
Sumber : Kementerian Kebudayaan








