NEWSLINE.ID – Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menjelma menjadi salah satu topik paling hangat di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Setelah sempat memicu polemik akibat pembatalan dan pembubaran sejumlah kegiatan nonton bareng di berbagai daerah, film tersebut kini justru meraih perhatian publik yang jauh lebih besar melalui platform YouTube.
Dokumenter garapan Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale itu resmi dirilis secara gratis pada 22 Mei 2026. Sejak dapat diakses publik secara luas, jumlah penontonnya terus bertambah dan memicu diskusi yang meluas di media sosial, kampus, komunitas, hingga berbagai forum publik.
Fenomena ini menarik perhatian karena terjadi di tengah kontroversi yang sebelumnya mengiringi perjalanan film tersebut. Sejumlah agenda pemutaran yang digelar komunitas dan kelompok masyarakat sipil dilaporkan menghadapi penolakan maupun pembubaran. Situasi itu kemudian menjadi bahan perbincangan nasional dan mendorong rasa ingin tahu masyarakat terhadap isi dokumenter tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Alih-alih tenggelam akibat polemik, film ini justru memperoleh eksposur yang lebih besar. Banyak warga yang sebelumnya belum mengetahui keberadaan dokumenter tersebut mulai mencari dan menontonnya setelah isu pembubaran nobar ramai diberitakan dan dibahas di media sosial.
Film berdurasi sekitar satu setengah jam itu menyoroti berbagai persoalan yang berkaitan dengan tanah adat, perubahan lingkungan, serta dampak pembangunan berskala besar terhadap kehidupan masyarakat adat di Papua Selatan. Melalui rangkaian wawancara dan dokumentasi lapangan, film tersebut menampilkan pandangan masyarakat yang hidup langsung di wilayah yang menjadi fokus pembahasan.
Perhatian publik terhadap film ini tidak hanya datang dari kalangan aktivis dan akademisi. Diskusi mengenai isi dokumenter juga menjangkau masyarakat umum yang selama ini jarang mengikuti isu-isu Papua. Hal tersebut terlihat dari tingginya interaksi di berbagai platform digital setelah film tersedia secara terbuka.
Di sisi lain, kemunculan film ini kembali memunculkan perdebatan mengenai kebebasan berekspresi, hak masyarakat untuk memperoleh informasi, serta pentingnya ruang diskusi publik dalam menyikapi berbagai persoalan kebangsaan.
Terlepas dari beragam pandangan yang muncul, satu hal yang tidak terbantahkan adalah keberhasilan Pesta Babi menarik perhatian publik dalam skala nasional. Dari sebuah film dokumenter yang sempat menuai kontroversi dalam pemutarannya, karya tersebut kini berkembang menjadi salah satu isu yang paling banyak diperbincangkan sepanjang akhir Mei 2026.
Perjalanan Pesta Babi menunjukkan bahwa di era digital, sebuah karya tidak selalu berhenti ketika menghadapi penolakan. Dalam kasus ini, kontroversi justru menjadi pintu yang membawa film tersebut menjangkau audiens yang jauh lebih luas dan memicu perdebatan yang terus bergulir hingga hari ini.(*)








