JAKARTA,newsline.id — Film dokumenter Pesta Babi yang selama beberapa pekan terakhir memicu kontroversi nasional kini menghadapi guncangan baru. Sosok perempuan adat yang selama ini menjadi simbol perlawanan terhadap proyek Food Estate di Merauke, Yasinta Moiwend atau Mama Yasinta, mendadak berbalik arah dan melaporkan pihak yang selama ini mendampinginya ke polisi.
Langkah itu mengejutkan banyak pihak karena Mama Yasinta merupakan salah satu tokoh utama dalam film yang mengangkat isu penggusuran tanah adat dan dampak proyek strategis nasional di Papua Selatan tersebut.
Didampingi kuasa hukumnya, Mama Yasinta mendatangi Polda Metro Jaya dan menyatakan keberatan karena wajahnya ditampilkan dalam film tanpa izin. Ia bahkan meminta agar pemutaran film tersebut dihentikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati. Tanpa izin dari saya. Maka itu saya datang ke Jakarta,” kata Mama Yasinta.
Tak berhenti di situ, ia melontarkan permintaan tegas yang langsung menjadi sorotan publik.
“Dihentikan! Mulai dari hari ini dihentikan! Seandainya ada yang putar film itu, tolong proses orang itu,” ujarnya.
Laporan tersebut ditujukan kepada Direktur LBH Pos Merauke yang selama ini dikenal mendampingi perjuangan masyarakat adat menolak proyek Food Estate. Kuasa hukum Mama Yasinta menyebut laporan diajukan menggunakan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi.
Perubahan sikap Mama Yasinta menjadi perhatian besar karena selama bertahun-tahun ia dikenal sebagai salah satu suara paling lantang yang menolak proyek Food Estate di Merauke. Namanya bahkan kerap muncul dalam berbagai aksi demonstrasi, kampanye lingkungan, hingga gugatan hukum terkait proyek tersebut.
Namun dalam video yang beredar luas di media sosial, Mama Yasinta mengaku kini mengambil jalan berbeda.
“Saya sudah ambil keputusan sendiri. Jadi saya mau cari pekerjaan di perusahaan, cari pekerjaan karena rumah saya ingin direhab karena sudah tidak layak lagi,” katanya.
Pernyataan yang paling mengejutkan muncul ketika ia mengaku kini mendukung pihak perusahaan.
“Saya tetap di pihak perusahaan sekarang, tidak seperti dulu lagi karena dulu itu saya dimanfaatkan, saya diajak oleh orang-orang LBH,” ujarnya.
Pernyataan tersebut langsung memicu perdebatan sengit. Sebagian publik mempertanyakan alasan perubahan sikap itu, sementara sebagian lainnya meminta agar situasi tidak disimpulkan secara sepihak.
Di tengah polemik yang semakin panas, sutradara Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono, memilih memberikan respons singkat.
“Kami hormati pilihan Mama Yasinta. Sebagaimana kami menghormati hak setiap orang untuk tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di Papua,” katanya.
Sementara itu, tim kolaborator film yang terdiri dari sejumlah organisasi masyarakat sipil menyatakan tetap menghormati Mama Yasinta dan meminta publik tidak menghakiminya.
Mereka menegaskan bahwa perempuan adat Malind tersebut telah lama memperjuangkan tanah dan komunitasnya jauh sebelum proses produksi film berlangsung.
Kasus ini menambah daftar panjang kontroversi yang mengiringi perjalanan Pesta Babi. Sebelumnya, sejumlah agenda pemutaran film di berbagai daerah dilaporkan mengalami intimidasi dan pembatalan yang memicu perhatian luas publik.
Kini, ketika salah satu tokoh sentral film justru meminta pemutaran dihentikan dan membawa persoalan tersebut ke ranah hukum, polemik Pesta Babi memasuki babak baru yang berpotensi semakin menyita perhatian nasional.(*)









