Newsline.id – Dalam beberapa tahun terakhir, aksi unjuk rasa di Indonesia tak lagi didominasi oleh aktivis senior atau mahasiswa konvensional. Kini, pemandangan spanduk berwarna pastel, poster estetik, hingga video TikTok dari barisan aksi menjadi hal biasa. Yup, Gen Z ikut demo—tapi pertanyaannya: mereka peduli isu atau cuma bikin konten?
🎯 Aksi Nyata atau Estetika?
Gen Z dikenal sebagai generasi digital yang serba visual dan ekspresif. Tak jarang, dokumentasi mereka saat turun ke jalan lebih vibes daripada substansi. Di satu sisi, ini membantu memperluas jangkauan isu lewat media sosial. Tapi di sisi lain, muncul kritik: jangan-jangan ini cuma jadi ajang “fashion demo” atau “konten reels”.
“Ikut demo itu penting, tapi jangan cuma buat dapet likes,” ujar Fina (22), mahasiswa jurusan ilmu politik yang aktif di organisasi kampus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
📲 Peran Media Sosial: Edukasi atau Eksistensi?
Media sosial jadi pedang bermata dua. Banyak konten edukatif muncul dari momen demonstrasi: penjelasan pasal-pasal bermasalah, highlight tuntutan aksi, hingga wawancara singkat di lapangan. Tapi, tak sedikit juga konten yang lebih fokus ke outfit, aesthetic filter, atau “muka serius biar keren”.
Menurut survei dari Youth Insight Indonesia (2025), 60% Gen Z yang hadir di aksi demonstrasi mengaku juga membuat konten untuk media sosial mereka, dan 38% mengaku tergerak ikut demo karena melihatnya trending di TikTok atau Twitter.
🧠 Nggak Semua Harus Serius, Tapi Harus Paham
Ada yang bilang: biarlah ikut demo karena tren, yang penting hadir dulu. Tapi, aktivis dan pengamat menyarankan agar Gen Z tetap membekali diri dengan pengetahuan dasar soal isu yang diperjuangkan—baik soal hukum, politik, maupun sosial.
“Isu nggak akan selesai hanya dengan upload. Harus ada pemahaman, terus dilanjutkan dengan konsistensi,” kata Riko, aktivis HAM dari Jakarta.
🔥 Penutup: Tren Bisa Jadi Gerakan
Kehadiran Gen Z di barisan massa memang membawa warna baru—lebih ekspresif, inklusif, dan digital-savvy. Tapi esensi dari aksi tetap harus dijaga: memperjuangkan perubahan.
Karena pada akhirnya, yang membedakan konten dan kontribusi adalah niat dan dampaknya. (********)









