BMR,newsline.id — Di tengah tekanan ekonomi di Bolaang Mongondow Raya (BMR), emas bukan sekadar komoditas. Bagi ribuan warga, logam mulia itu menjadi satu-satunya sumber penghidupan.
Namun situasi berubah ketika razia terhadap toko emas di Sulawesi Utara membuat aktivitas jual beli terganggu. Sejumlah pemilik toko memilih menahan transaksi, terutama dari penambang kecil.
Akibatnya, para penambang manual yang hanya menghasilkan satu hingga dua gram per hari kini kesulitan menjual hasilnya. Kondisi ini langsung berdampak pada kemampuan mereka memenuhi kebutuhan dasar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami bingung mau jual ke mana. Padahal cuma sedikit untuk beli kebutuhan pokok, tapi toko-toko tidak berani ambil,” ujar seorang penambang.
Di tengah kebuntuan tersebut, muncul inisiatif dari pihak yang tetap berani menyerap emas hasil tambang rakyat. Langkah ini memberi ruang bagi penambang untuk tetap mendapatkan penghasilan di tengah situasi yang tidak menentu.
Salah satu pihak yang terlibat bahkan menggandeng investor untuk memastikan hasil tambang tetap memiliki nilai jual. Keputusan ini dinilai membantu menjaga perputaran ekonomi masyarakat kecil.
“Kalau bukan kita yang bergerak, siapa lagi? Mereka hanya ingin menyambung hidup,” ujar sumber yang mengetahui langkah tersebut.
Dampaknya mulai terasa. Aktivitas pembelian emas rakyat perlahan kembali bergerak, bahkan memicu pihak lain ikut terlibat di pasar yang sebelumnya sempat lesu.
Meski demikian, kondisi ini juga menunjukkan rapuhnya ketergantungan ekonomi masyarakat terhadap satu komoditas.
Apa yang terjadi di BMR menjadi gambaran nyata bahwa di balik setiap gram emas, ada perjuangan hidup yang dipertaruhkan. Ketika akses pasar terhambat, yang paling terdampak adalah mereka yang berada di lapisan paling bawah.(*)








