MERAUKE, Newsline.id — Sebatang ranting kayu tertancap miring di pinggir jalan kawasan Buti, Merauke. Di ujung ranting itu, beberapa ekor ikan menggantung diterpa angin siang yang panas.
Tak ada kios. Tak ada papan nama. Tak ada etalase pendingin seperti di pasar modern.
Hanya ember hitam kecil di bawah ranting kayu, kursi kayu lusuh, dan harapan agar kendaraan yang melintas mau berhenti membeli.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tempat sederhana itulah Maria Yosefa Wagis Mahuze (38) bersama suaminya, Agustinus Matruty (40), menjaga hidup keluarga mereka tetap berjalan.
Hampir 10 tahun pasangan itu menjual hasil tangkapan laut di tepi jalan. Setiap subuh, Agustinus pergi melaut di kawasan Pantai Lampu Satu menggunakan jaring sederhana. Hasil tangkapan hari itu lalu digantung di ranting kayu agar mudah dilihat pengendara.
“Orang biasa lewat jadi kita jual di sini,” kata Maria pelan sambil menggendong anaknya.
Tak selalu ada hasil. Ketika ombak besar datang atau air pasang, Agustinus memilih tidak melaut.
“Kalau ombak besar biasanya tidak menjala,” ujar Maria.
Selain ikan, mereka kadang menjual kepiting, kerang mumu, hingga siput laut untuk menambah penghasilan keluarga. Tidak ada modal besar. Tidak ada freezer. Tidak ada peralatan modern.
Hanya jaring, tenaga, dan harapan agar dagangan hari itu habis sebelum malam turun.
Saat tangkapan sedang bagus, penghasilan mereka bisa mencapai ratusan ribu rupiah sehari. Namun lebih sering, penghasilan itu bergantung pada cuaca dan hasil tangkapan di laut.
Di tengah keterbatasan, telepon genggam perlahan menjadi alat bertahan hidup yang baru. Sesekali Maria memotret hasil tangkapan lalu mengunggahnya ke Facebook untuk mencari pembeli lebih cepat.
Dari ranting kayu di pinggir jalan hingga layar telepon genggam, mereka mengikuti perubahan zaman dengan cara paling sederhana yang mereka punya.
Namun di balik ikan-ikan yang tergantung di ranting kayu itu, ada ironi yang lama nyaris tak terlihat: usaha kecil seperti milik Maria hidup setiap hari, menggerakkan ekonomi keluarga, tetapi keberadaannya hampir tak pernah hadir dalam data.
Hampir satu dekade berjualan di tepi jalan, Maria mengaku belum pernah sekalipun didata sebagai pelaku usaha.
“Belum pernah ada petugas datang data,” katanya.
Padahal, dari jualan ikan itulah dapur keluarganya tetap menyala.
Aktivitas ekonomi seperti ini tersebar di banyak sudut Papua Selatan—di bawah pondok kecil, di emperan jalan, di pasar-pasar kampung, hingga di tepian pantai. Sebagian bergerak tanpa papan nama, tanpa izin usaha, bahkan tanpa pernah benar-benar tercatat.
Mereka sering dianggap terlalu kecil untuk dilihat. Padahal, justru dari usaha-usaha sederhana itulah banyak keluarga bertahan hidup setiap hari.
Bagi Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok usaha informal seperti milik Maria menjadi bagian penting yang ingin dijangkau dalam Sensus Ekonomi 2026.
Fungsional Statistisi Ahli Madya BPS Kabupaten Merauke, Rafly Parenta Bano, mengatakan seluruh aktivitas usaha akan didata, baik formal maupun informal, termasuk usaha kecil yang dijalankan masyarakat di pinggir jalan.
“Usaha petani, usaha sederhana di pinggir jalan, semuanya masuk. Baik yang menempati bangunan tetap maupun yang sifatnya keliling,” ujarnya.
Menurut Rafly, data tersebut dibutuhkan pemerintah untuk melihat peta ekonomi riil masyarakat sekaligus memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah.
“Pemerintah membutuhkan data jumlah usaha kecil, mikro, hingga menengah sebagai dasar pengambilan kebijakan dan penguatan sektor UMKM ke depan,” katanya.
Pendataan nantinya dilakukan secara langsung dari rumah ke rumah, termasuk untuk usaha yang tidak memiliki tempat tetap.
BPS juga mulai melihat perubahan wajah ekonomi masyarakat yang kini bergerak ke ruang digital. Selain pedagang tradisional, aktivitas ekonomi baru seperti content creator, afiliator, influencer, hingga penjual daring mulai menjadi bagian dari potensi ekonomi yang ikut dihitung dalam sensus.
Namun pekerjaan mendata usaha informal bukan perkara mudah.
“Tantangannya ada pada probing dari petugas dan keterbukaan responden. Petugas nantinya akan dilatih bagaimana menggali informasi secara komprehensif,” kata Rafly.
Bagi Maria, urusan data mungkin terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia tak bicara soal statistik, pertumbuhan ekonomi, atau kebijakan UMKM. Ia hanya berharap suatu hari ada bantuan jaring agar suaminya bisa melaut lebih baik.
“Kalau ada bantuan jaring mungkin bisa lebih bagus untuk cari ikan,” ujarnya.
Menjelang sore, beberapa ikan masih tergantung di ranting kayu di pinggir jalan Buti. Kendaraan sesekali melambat lalu kembali melaju meninggalkan debu.
Sementara Maria dan Agustinus tetap menunggu pembeli datang.

Seperti banyak usaha kecil lainnya di Papua Selatan, mereka hidup, bergerak, dan bertahan setiap hari—meski lama tak benar-benar terlihat dalam angka-angka pembangunan.









