MAUMERE, newsline- Akhir-akhir ini kita kembali menemukan fenomena yang marak terjadi di media sosial, yaitu perdebatan sengit antar pemuka agama. Perdebatan ini berpusat pada pengklaiman kebenaran ajaran masing-masing; dengan kata lain, setiap pihak merasa ajaran yang dianutnya paling benar, hingga berani menyudutkan dan merendahkan ajaran agama lain.
Keadaan ini tidak bisa lagi dipandang sekadar sebagai diskusi iman atau pembahasan antaragama biasa. Pasalnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pertentangan tajam yang bisa memicu ketersinggungan, serta merusak hubungan baik antarumat beragama di masyarakat.
Pembahasan semacam ini tidak perlu diperpanjang, karena sesungguhnya tidak akan pernah ditemukan titik temu,
mengingat kita masing-masing memegang ajaran dan keyakinan yang berbeda. Langkah terbaik yang dapat kita lakukan adalah saling menghargai perbedaan tersebut, agar tercipta suasana kerukunan dan kedamaian bersama.
Soal kebenaran mutlak, itu sepenuhnya kembali pada ajaran agama masing-masing dan kesadaran diri sendiri, sebab hal itu menyangkut hubungan pribadi setiap manusia dengan Tuhannya. Hal yang paling utama dalam hidup adalah perbuatan baik dan manfaat bagi sesama selagi kita masih berada di dunia, bukan sekadar banyak berdoa atau menguasai isi kitab suci saja.
Perdebatan seperti ini justru menjadi tanda bahwa kita belum dewasa secara spiritual. Kita sibuk menunjukkan kepintaran berkata-kata serta kehebatan menguasai isi kitab, namun lupa dan tidak paham cara membangun hubungan yang baik dengan sesama.
Padahal, tanda kematangan iman yang sesungguhnya terlihat dari kemampuan kita menghargai perbedaan, menjaga kerukunan, serta mewujudkan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari.
Sangat disayangkan, masih ada tokoh agama yang bukannya memberikan teladan dalam menghargai perbedaan, melainkan justru memicu perdebatan yang tidak perlu. Sikap demikian tidak saja gagal mendamaikan, tetapi justru berpotensi menumbuhkan bibit pertikaian dan konflik di tengah masyarakat.
Hal ini menunjukkan bahwa mereka sesungguhnya tidak memiliki kematangan spiritual. Mereka hanya sekadar ingin memamerkan kepintaran berkata-kata dan kehebatan menghafal isi kitab suci, namun sama sekali tidak memikirkan dampak sosial serta pentingnya menjaga kehidupan bertoleransi di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Silvester Moan Nurak
Warga Masyarakat
Penulis : Silvester Moan Nurak









