MERAUKE, Newsline.id – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Merauke, Cendana Murti Nuryana Sri Hapsara, secara resmi membuka Pelatihan Petugas Sensus Ekonomi (SE) 2026 yang dipusatkan di Care Inn Hotel, Merauke, Selasa (2/6/2026). Pembukaan ditandai dengan pemukulan tifa pada pukul 08.30 WIT sebagai simbol dimulainya rangkaian pelatihan bagi petugas sensus ekonomi di Kabupaten Merauke.
Kegiatan tersebut diikuti oleh peserta yang berada di tiga lokasi pelatihan, yakni Care Inn Hotel, Sunny Day Hotel, dan Bells Hotel. Peserta yang berada di Sunny Day Hotel dan Bells Hotel mengikuti prosesi pembukaan secara daring melalui Google Meet yang terhubung langsung dengan lokasi utama kegiatan di Care Inn Hotel.
Pelatihan ini merupakan bagian dari persiapan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang akan dilaksanakan secara nasional. Melalui kegiatan tersebut, BPS Kabupaten Merauke menyiapkan petugas yang akan bertugas melakukan pendataan berbagai aktivitas usaha masyarakat guna menghasilkan data ekonomi yang akurat, lengkap, dan dapat dipertanggungjawabkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam arahannya, Kepala BPS Kabupaten Merauke menegaskan bahwa petugas sensus merupakan ujung tombak dalam menghasilkan data statistik yang berkualitas. Karena itu, para peserta diharapkan memahami konsep, metodologi, serta teknis pendataan yang akan diterapkan saat pelaksanaan sensus di lapangan.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan sensus ekonomi dari waktu ke waktu terus berkembang mengikuti perubahan pola aktivitas ekonomi masyarakat. Jika pada masa lalu sebagian besar usaha mudah ditemukan melalui toko, kios, pasar maupun kantor yang memiliki lokasi tetap, kini banyak usaha berkembang melalui platform digital, media sosial, dan perdagangan daring yang tidak selalu memiliki tempat usaha fisik.
“Karena itu, petugas sensus harus mampu memahami perkembangan tersebut agar seluruh aktivitas ekonomi masyarakat dapat terdata dengan baik dan menghasilkan data yang akurat,” ujarnya.
Sebanyak 248 peserta mengikuti pelatihan yang terbagi dalam enam kelas. Di Care Inn Hotel, kelas 1 dan kelas 2 masing-masing diikuti oleh 41 peserta. Di Sunny Day Hotel, kelas 3 dan kelas 4 masing-masing diikuti oleh 41 peserta. Sementara di Bells Hotel, kelas 5 dan kelas 6 masing-masing diikuti oleh 42 peserta.
Untuk mendukung proses pelatihan, BPS Kabupaten Merauke melibatkan lima Instruktur Daerah (Inda) dan satu Instruktur Nasional yang memberikan pembekalan terkait konsep dasar Sensus Ekonomi 2026, teknik wawancara, penggunaan aplikasi pendataan, hingga berbagai prosedur yang akan diterapkan saat pelaksanaan sensus di lapangan.
Selain materi teknis, kegiatan pelatihan juga menghadirkan BPJS Ketenagakerjaan yang memberikan sosialisasi terkait perlindungan jaminan sosial bagi para petugas sensus. Kerja sama tersebut dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap keselamatan dan perlindungan petugas yang nantinya akan bekerja langsung di tengah masyarakat selama proses pendataan berlangsung.
Sensus Ekonomi 2026 merupakan agenda nasional yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi dan perkembangan aktivitas ekonomi di Indonesia. Data yang dihasilkan nantinya akan menjadi salah satu dasar dalam penyusunan kebijakan pembangunan ekonomi di tingkat nasional maupun daerah.
Salah seorang peserta pelatihan dari Bells Hotel, Simon Martinus Minipko, mengaku tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena ingin menambah pengalaman sekaligus memperkaya portofolio kerja.
Menurut Simon, kesempatan untuk terlibat dalam Sensus Ekonomi 2026 merupakan pengalaman yang berharga karena kegiatan tersebut hanya dilaksanakan sekali dalam sepuluh tahun.
“Karena ini kegiatan yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali, saya ingin menambah pengalaman dan portofolio. Kebetulan saat ini saya belum memiliki pekerjaan tetap, sehingga kesempatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk belajar sekaligus berkontribusi,” katanya.
Sebagai putra asli Papua, Simon mengaku memiliki motivasi tersendiri untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan Orang Asli Papua (OAP) dalam pelaksanaan sensus dapat membantu membangun komunikasi yang lebih baik dengan para pelaku usaha maupun masyarakat sehingga data yang diperoleh benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan.
“Kegiatan sensus ini berhubungan langsung dengan masyarakat. Dengan melibatkan anak-anak asli Papua, saya berharap masyarakat dapat lebih terbuka dalam memberikan informasi sehingga data yang dihasilkan benar-benar akurat dan dapat menjadi dasar yang baik bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan pembangunan,” ujarnya.
Simon juga berharap semakin banyak generasi muda Papua yang diberikan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan pendataan maupun program pembangunan lainnya.
“Anak muda Papua memiliki banyak potensi. Saya berharap ke depan keterlibatan mereka dalam kegiatan seperti sensus ekonomi dapat terus ditingkatkan, karena selain memberikan pengalaman dan pengetahuan, juga menjadi bentuk partisipasi nyata dalam mendukung pembangunan daerah,” tutupnya.
Pelatihan ini diharapkan mampu menghasilkan petugas sensus yang profesional, memahami kondisi sosial masyarakat, serta mampu menjangkau berbagai bentuk usaha yang terus berkembang, termasuk sektor usaha digital yang menjadi salah satu tantangan baru dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Dengan data yang akurat dan berkualitas, pemerintah akan memiliki landasan yang lebih kuat dalam menyusun kebijakan pembangunan ekonomi yang tepat sasaran bagi masyarakat









