MAUMERE, newsline— Langkah nyata dalam memerangi ancaman stunting ditunjukkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere yang bersinergi dengan Kader Pembangunan Manusia (KPM) di Desa Hebing, Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka.
Dalam aksi lapangan tersebut, mahasiswa turun langsung membantu pelayanan kesehatan Posyandu, mulai dari penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, hingga pencatatan grafik tumbuh kembang anak.
“Kami hadir untuk membantu pelayanan kesehatan sekaligus mengajak masyarakat agar semakin peduli terhadap tumbuh kembang anak sejak dini,” ujar Maria Susana Daro, mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Unipa.
Menurut Maria, pencegahan stunting idealnya harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan, dimulai sejak masa kehamilan melalui pemenuhan gizi yang seimbang. Setelah bayi lahir, langkah tersebut wajib dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang bergizi lengkap, pemenuhan imunisasi dasar, serta pemantauan rutin di Posyandu dan penerapan kebiasaan hidup bersih di rumah.
“Pencegahan stunting harus dimulai sejak kehamilan, dilanjutkan ASI eksklusif, MPASI bergizi, imunisasi lengkap, serta rutin ke Posyandu. Mulailah dari hal sederhana seperti mengonsumsi hasil bumi sendiri dan menjaga kebersihan lingkungan, karena perubahan kecil ini akan berdampak besar bagi masa depan anak-anak kita,” kata Maria menegaskan.
Guna memastikan intervensi tepat sasaran, tim KKN bersama kader kesehatan juga melakukan pemetaan sosial dengan mendatangi rumah-rumah warga secara langsung. Dari hasil penyisiran tersebut, ditemukan sejumlah masalah pemicu stunting.
Masalah tersebut meliputi adanya balita kurang gizi, ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK), rendahnya kesadaran warga memeriksakan anak ke Posyandu, kebiasaan bersalin di luar fasilitas kesehatan, hingga belum terpenuhinya akses air bersih, sanitasi layak, dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Pemetaan langsung ke rumah warga ini sangat penting agar kita mendapatkan data yang objektif dan riil mengenai akar masalah kesehatan yang dihadapi warga Desa Hebing,” tambah Maria.
Temuan data faktual dari pemetaan sosial tersebut direspons cepat oleh Kader Pembangunan Manusia setempat. Data riil dari lapangan ini dinilai sangat krusial agar perencanaan program pencegahan stunting di tingkat desa tidak salah sasaran dan dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Kondisi riil dan data faktual di lapangan inilah yang menjadi dasar utama bagi kita untuk merumuskan langkah penanganan yang tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran dan berkelanjutan,” tegas Yeti Da Rato selaku KPM Desa Hebing.
Menindaklanjuti data objektif tersebut, Pemerintah Desa Hebing menyelenggarakan Rembuk Stunting pada Senin (3/8/2026) di aula desa. Forum strategis yang dihadiri oleh aparatur desa, tokoh masyarakat, kader kesehatan, KPM, dan mahasiswa KKN Unipa ini digelar untuk menyatukan langkah dan komitmen seluruh elemen desa.
“Rembuk Stunting ini bukan sekadar forum diskusi biasa, melainkan wadah untuk menyatukan komitmen bersama demi menyelamatkan generasi masa depan desa kita dari ancaman stunting,” tutur Kepala Desa Hebing, Polikarpus, dalam sambutannya.
Melalui diskusi kelompok terfokus, forum berhasil merumuskan paket komitmen intervensi, mulai dari penguatan pemantauan kehamilan, pemberian Tablet Tambah Darah, edukasi wajib bersalin di fasilitas kesehatan, perbaikan sarana air bersih, hingga pendataan warga untuk JKN.
Seluruh poin kesepakatan hari dituangkan dalam berita acara dan dipastikan masuk ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa serta APBDes tahun depan agar dapat direalisasikan secara maksimal.
Penulis : Silvester Moan Nurak








