SUMENEP, Newsline.id – Bulan Agustus kembali disambut meriah oleh masyarakat Desa Bluto, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, desa ini menggelar serangkaian kegiatan yang tak hanya bernuansa hiburan, tapi juga sarat nilai kebersamaan dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Sejak awal bulan, berbagai perlombaan telah mewarnai suasana desa. Malam ini, lapangan desa kembali dipadati warga dari berbagai RT dan dusun yang hadir untuk memberikan dukungan pada jagoan masing-masing. Yel-yel kreatif, kostum unik, dan atribut warna-warni menghiasi pinggir arena, menghidupkan atmosfer layaknya kompetisi skala besar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini seperti pertandingan profesional tapi penuh kekeluargaan,” ungkap Rani, salah satu warga yang turut menyaksikan lomba estafet bakiak bersama keluarga.
Tahun ini, ada yang berbeda dari perayaan Agustusan di Desa Bluto. Selain perlombaan, panitia juga menggelar pameran produk UMKM lokal yang dikemas menyerupai pasar malam. Stand-stand makanan khas, minuman tradisional, hingga kerajinan tangan tampil memikat di sekitar lokasi kegiatan.
Anak-anak tampak riang mencoba permainan tradisional, sementara para orang tua asyik mencicipi kuliner desa atau berbelanja hasil karya warga.
Kepala Desa Bluto, Heni Susilowati, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Baginya, peringatan kemerdekaan harus menjadi ruang kolektif bagi masyarakat untuk mengekspresikan kebahagiaan sekaligus mendorong potensi lokal.
“Ini bentuk syukur dan kebanggaan kita sebagai bangsa merdeka. Tapi lebih dari itu, kami ingin warga desa terlibat aktif, bersuka cita, dan UMKM bisa tumbuh dari ruang-ruang seperti ini,” ujar Heni.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan wujud dari semangat gotong royong yang diwariskan para pendiri bangsa.
Puncak rangkaian acara akan digelar menjelang 17 Agustus, di antaranya karnaval budaya, jalan sehat berhadiah, dan malam resepsi kemerdekaan yang akan melibatkan seluruh elemen masyarakat desa.
Bagi masyarakat Desa Bluto, Agustus bukan sekadar bulan sejarah. Ini adalah momen untuk merayakan kemerdekaan dengan cara yang inklusif: membangun, memberdayakan, dan menyatukan.
“Kalau desa-desa seperti ini terus menjaga semangatnya, saya yakin Indonesia akan semakin kuat dari bawah,” kata tokoh masyarakat setempat.
Kemeriahan Agustusan di Desa Bluto menjadi bukti bahwa nasionalisme tak harus formal. Ia bisa hidup dalam sorak anak-anak, aroma jajanan pasar, dan tawa warga yang menyatu dalam semangat merah putih.








