Leksikografi dan Kecerdasan Artifisial: Adaptasi Teknologi untuk Kedaulatan Bangsa

Thursday, 7 August 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Newsline.id – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi membuka Seminar Leksikografi Indonesia (SLI) ke-8 di Jakarta, Selasa (5/8). Tahun ini, seminar tahunan tersebut mengangkat tema “Leksikografi dan Kecerdasan Artifisial” sebagai respons atas dinamika baru dalam penyusunan kamus di era digital. Kegiatan yang diikuti oleh 120 peserta terpilih ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat fondasi perkamusan Indonesia yang adaptif terhadap teknologi.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Hafidz Muksin, yang menekankan bahwa peran kamus tidak bisa dipisahkan dari sejarah perjuangan dan masa depan bahasa Indonesia. Menurutnya, dengan meluasnya penggunaan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang tercatat lebih dari 305 juta pencarian daring, kini tugas menjaga kualitas dan keberlanjutan kamus menjadi makin krusial.

Walau pencarian di KBBI sudah sangat masif, namun masih ada masyarakat yang belum memahami arti istilah tertentu dengan benar walaupun sering digunakan. Upaya sosialisasi istilah-istilah baru perlu dilakukan melalui berbagai media yang mudah diakses dan dipahami.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam konteks perkembangan teknologi mutakhir, Hafidz menyoroti pentingnya pemanfaatan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) secara etis dan adaptif dalam pengembangan kamus. Ia mengingatkan bahwa AI bukan hanya alat bantu, tetapi juga medium yang bisa menyebarkan kata-kata yang positif yang dibangun bersama. “Etika dalam berbahasa itu penting, kata dalam KBBI bersumber dari kita. Maka KBBI harus mampu menjadi rujukan utama bagi sistem AI. Jangan sampai kosakata yang tidak santun dan tidak sesuai nilai budaya Indonesia justru menjadi yang paling mudah ditemukan melalui AI,” ungkap Hafidz.

Baca Juga  Setahun Bertransformasi: Kemendikdasmen Wujudkan Pendidikan Inklusif dan Bermutu

Ia pun mencontohkan potensi teknologi dalam menyajikan data lintas bahasa. “Bayangkan jika anak muda ingin mencari padanan kata ‘saya’ dalam sepuluh bahasa daerah, lalu AI secara langsung menampilkan kosakata tersebut lengkap dengan suara penutur asli. Ini adalah ruang kreativitas luar biasa yang harus kita pelajari dan manfaatkan,” ujar Hafidz antusias.

Meski demikian, ia juga mengingatkan adanya dilema linguistik di era digital. Kosakata baru yang muncul dari komunitas daring atau media sosial perlu disaring sebelum masuk ke ruang formal. “Validitas, kesantunan, dan keterwakilan budaya menjadi parameter penting agar KBBI tetap menjadi acuan utama dalam ruang publik yang sehat dan beradab,” tegasnya.

Selain memaparkan capaian dan tantangan yang dihadapi, Hafidz juga mengungkapkan rencana strategis jangka panjang. Badan Bahasa akan menjalin kerja sama internasional dengan universitas ternama seperti Leiden University, dan berbagai perguruan tinggi di Australia untuk memperkuat kapasitas S2 dan S3 dalam bidang linguistik, leksikografi, dan kajian kebahasaan lainnya. Ia juga akan membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam negeri melalui program magang selama satu semester di Badan Bahasa untuk mendalami praktik perkamusan dan peristilahan.

Baca Juga  10 Aksesori Wajib Buat Pecinta Touring Mobil

Kegiatan ini sekaligus menjadi refleksi menjelang peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Hafidz berharap para peserta dapat menyumbangkan pemikiran kritis dan strategis tentang bagaimana bahasa Indonesia mampu terus berkontribusi terhadap semangat kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Ia juga memotivasi peserta untuk terus menjaga eksistensi dan perkembangan bahasa Indonesia, terutama dalam konteks pemanfaatan kecerdasan arifisial.

Dalam kesempatan yang sama, Dewi Puspita, Widyabasa Ahli Madya, mengungkapkan bahwa dalam seminar tahun ini antusiasme peserta sangat tinggi. Tercatat lebih dari 200 peserta mendaftar, dengan 60 makalah yang diterima dan 28 makalah terpilih untuk dipresentasikan. “Kami sangat mengapresiasi antusiasmen peserta yang mendaftar, namun kami belum bisa menyelenggarakan secara hibdira, guna menjaga kualitas diskusi, karena dunia perkamusan memerlukan keahlian dan konsentrasi khusus,” kata Dewi saat melaporkan acara tersebut.

Baca Juga  Hari Anak Sedunia 2025: Mengingatkan Dunia untuk Mendengar Suara Anak

Tema yang diangkat, “Leksikografi dan Kecerdasan Artifisial”, dielaborasi dalam lima subtema besar, mulai dari kebijakan leksikografi Indonesia, pengembangan sistem manajemen kamus, kamus multilingual, keterkaitan dengan data science, hingga isu-isu terminologi kontemporer. Di sela kegiatan juga akan dilaksanakan Sidang Perkamusi Indonesia, sebuah forum khusus yang mempertemukan para pakar dan praktisi leksikografi untuk membahas pengembangan kamus Indonesia.

Salah satu pembicara utama dalam seminar ini, Ian Kamajaya, menyampaikan materi bertajuk “Kecerdasan Artifisial dan Sistem Manajemen Kamus di Indonesia”. Ia menyoroti bagaimana AI dapat memainkan peran penting dalam memajukan sistem manajemen kamus, namun dengan syarat: adanya infrastruktur yang mendukung, penyediaan data latihan berkualitas, biaya yang memadai, dan tenaga ahli yang terampil. Menurutnya, optimisme terhadap teknologi perlu dibarengi dengan ekspektasi yang realistis dan pemahaman terhadap tantangan aktual yang dihadapi dalam implementasinya.

Seminar Leksikografi Indonesia 2025 ini menjadi bukti bahwa bahasa Indonesia terus bergerak maju. Tidak hanya sebagai alat komunikasi, melainkan juga sebagai medium ilmu pengetahuan, identitas dan penanda kemajuan bangsa. Selain itu juga mendorong terciptanya sebuah ekosistem kebahasaan yang memungkinkan terciptanya pertukaran informasi mutakhir seputar perkamusan. (*********)

Sumber : Kementerian Pendidikan Dasar Dan Menengah

Berita Terkait

Viral Perry Warjiyo-Najwa, Fakta Aslinya Mengejutkan
Fotokopi e-KTP Bisa Dipidana? Fakta Hukumnya Bikin Kaget
Mayoritas Pengprov Melawan: La Nyalla Diminta Mundur dari PBMI
Geger Bansos Mei 2026, Ribuan Nama Dicoret dan Diganti Penerima Baru
Film Pesta Babi Viral, Publik Ramai Cari Link Nonton
Ribuan Lowongan Mitra BPS Dibuka, Warga Berebut Peluang Sensus 2026
Sering Fotokopi KTP? Pemerintah Mulai Soroti Risiko Penyalahgunaan Data
Harga Asli Pertalite Disebut Rp16 Ribu, Publik Mulai Pertanyakan Subsidi BBM
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Sunday, 17 May 2026 - 09:44 WITA

Fotokopi e-KTP Bisa Dipidana? Fakta Hukumnya Bikin Kaget

Saturday, 16 May 2026 - 10:59 WITA

Mayoritas Pengprov Melawan: La Nyalla Diminta Mundur dari PBMI

Friday, 15 May 2026 - 20:33 WITA

Geger Bansos Mei 2026, Ribuan Nama Dicoret dan Diganti Penerima Baru

Friday, 15 May 2026 - 16:58 WITA

Film Pesta Babi Viral, Publik Ramai Cari Link Nonton

Monday, 11 May 2026 - 10:07 WITA

Ribuan Lowongan Mitra BPS Dibuka, Warga Berebut Peluang Sensus 2026

Berita Terbaru

Merauke

Ketika Tanah Adat Papua Dibuka untuk Proyek Raksasa

Wednesday, 20 May 2026 - 08:28 WITA

Rupiah Tembus Rp17.700, Tekanan Dolar Makin Agresif

Ekonomi

Rupiah Tembus Rp17.700, Tekanan Dolar Makin Agresif

Tuesday, 19 May 2026 - 13:25 WITA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa

Ekonomi

Rupiah Terpuruk dan IHSG Rontok, Pemerintah Bantah Krisis 1998

Tuesday, 19 May 2026 - 07:01 WITA

Illustrasi

Ekonomi

Rupiah Jebol Rp17.669, Pasar RI Mulai Panik

Monday, 18 May 2026 - 23:49 WITA