JAKARTA,newsline.id — Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali menjadi pusat perhatian politik nasional setelah muncul perebutan narasi antara relawan Projo dan Partai Solidaritas Indonesia terkait agenda “turun gunung” Jokowi pada Juni 2026.
Isu tersebut mencuat setelah Sekjen Projo Freddy Alex Damanik menyebut kondisi kesehatan Jokowi sudah pulih 99 persen dan siap kembali berkeliling Indonesia untuk menyapa masyarakat.
“Pak Jokowi menyampaikan kesehatannya sudah pulih 99 persen dan bulan depan beliau akan mulai keliling Indonesia kembali,” ujar Freddy.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Freddy, dalam agenda tersebut Jokowi juga akan didampingi relawan Projo saat mengunjungi sejumlah daerah.
Namun pernyataan itu langsung dibantah PSI. Ketua DPP PSI Bestari Barus menegaskan bahwa agenda perjalanan Jokowi justru sedang disiapkan PSI sebagai bagian dari strategi menuju Pemilu 2029.
“Kalau mengenai Pak Jokowi akan ke mana, kita sedang mempersiapkan roadmap perjalanan beliau menuju pemenangan PSI 2029,” kata Bestari.
Bestari bahkan menyinggung posisi Projo yang sebelumnya sempat menyatakan bahwa Projo bukan lagi singkatan dari “Pro Jokowi”.
Polemik tersebut memunculkan spekulasi bahwa pengaruh politik Jokowi masih dipandang penting menjelang kontestasi 2029. Meski begitu, sejumlah pengamat menilai efek politik Jokowi tidak lagi sebesar sebelumnya.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan bahwa berdasarkan hasil survei dan Pemilu 2024, Jokowi tidak memberikan dampak signifikan terhadap elektabilitas partai politik.
“Jokowi sebetulnya tidak memiliki dampak signifikan pada elektabilitas parpol,” ujarnya.
Ia menilai kemenangan Prabowo Subianto pada Pilpres sebelumnya tidak sepenuhnya dipengaruhi faktor Jokowi.
Sementara itu, Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga mengingatkan PSI agar berhitung matang sebelum menjadikan Jokowi sebagai simbol utama partai menuju 2029.
Menurutnya, kondisi politik Jokowi saat ini berbeda dibanding satu dekade lalu ketika masih dianggap figur perubahan.
“Jokowi saat ini adalah sosok kontroversial,” kata Jamiluddin.
Ia menilai langkah PSI membawa Jokowi berkeliling Indonesia justru berpotensi menjadi bumerang dan memicu antipati sebagian pemilih.
Di tengah perebutan pengaruh tersebut, kemunculan kembali Jokowi ke ruang publik dipastikan tetap menjadi magnet politik nasional. Namun pertanyaan besarnya kini bukan sekadar apakah Jokowi akan turun gunung, melainkan seberapa besar pengaruh politiknya masih mampu menggerakkan peta politik menuju Pemilu 2029.(**)








