JAKARTA|newsline.id – Nama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mendadak menjadi sorotan publik setelah sebuah foto dirinya beredar luas di media sosial. Dalam potret tersebut, Raja Juli tampak duduk di meja bersama beberapa orang yang sedang bermain domino. Salah satu orang yang ikut dalam permainan itu diketahui adalah Azis Wellang, tersangka kasus pembalakan liar yang saat ini tengah diproses aparat penegak hukum.
Kehadiran Raja Juli dalam momen itu memicu reaksi beragam dari masyarakat. Banyak yang mempertanyakan etika seorang pejabat tinggi negara yang terlihat berinteraksi dengan seorang tersangka. Apalagi isu pembalakan liar merupakan persoalan serius yang berkaitan langsung dengan tugas kementerian yang ia pimpin.
Menanggapi polemik ini, Raja Juli Antoni memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa kehadirannya di lokasi bukan untuk bertemu dengan Azis Wellang. Ia datang atas undangan koleganya, Menteri Perlindungan Pekerja Migran, yang saat itu menggelar pertemuan di posko Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan. Setelah berdiskusi di ruang belakang, ia melewati ruang depan dan melihat beberapa orang tengah bermain domino. “Saya diajak sebentar ikut bermain, hanya dua putaran, lalu pulang. Saya sama sekali tidak tahu bahwa salah satu peserta permainan adalah tersangka pembalakan liar,” ujar Raja Juli.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga menekankan bahwa tidak ada pembicaraan mengenai kasus hukum dalam pertemuan tersebut. “Saya tegaskan, pertemuan itu murni sosial. Tidak ada urusan hukum, tidak ada kaitannya dengan perkara apa pun. Komitmen saya jelas, siapa pun yang terbukti merusak hutan harus ditindak tanpa pandang bulu,” tambahnya.
Meski klarifikasi sudah disampaikan, peristiwa ini tetap menimbulkan perdebatan di ruang publik. Sebagian pihak menilai seorang pejabat negara seharusnya lebih berhati-hati dalam pergaulan karena setiap momen bisa menimbulkan persepsi berbeda. Foto singkat yang viral di media sosial bisa dengan cepat membentuk opini dan memengaruhi citra pejabat publik.
Raja Juli sendiri mengakui bahwa kejadian ini menjadi pelajaran penting baginya. “Saya memahami kritik masyarakat. Sebagai pejabat publik, saya memang harus lebih hati-hati. Ke depan saya akan lebih waspada agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” katanya.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa etika dan kehati-hatian merupakan aspek penting dalam kehidupan pejabat negara. Di tengah sorotan publik terhadap isu lingkungan dan pemberantasan pembalakan liar, setiap langkah Menteri Kehutanan tak luput dari perhatian masyarakat.(*)








