Kilang Minyak Meledak, 11 Tewas Usai Tanda Bahaya Diabaikan

Monday, 20 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anjungan pengeboran Deepwater Horizon setelah ledakan awal pada 20 April 2010 (Foto: Istimewah)

Anjungan pengeboran Deepwater Horizon setelah ledakan awal pada 20 April 2010 (Foto: Istimewah)

MEKSIKO,newsline.id — Ledakan dahsyat mengguncang kilang minyak Deepwater Horizon di Teluk Meksiko pada 20 April 2010 malam. Dalam hitungan detik, anjungan berubah menjadi lautan api, menewaskan 11 pekerja dan melukai 17 lainnya.

Tragedi ini bukan terjadi tanpa peringatan. Beberapa jam sebelum ledakan, uji tekanan sebenarnya telah menunjukkan tanda bahaya serius. Namun, peringatan itu diabaikan dan operasi tetap dilanjutkan.

Keputusan tersebut menjadi titik awal bencana besar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gas bertekanan tinggi kemudian menerobos lapisan pelindung sumur dan memicu ledakan hebat setelah sistem pengaman gagal berfungsi. Api dengan cepat menyebar ke seluruh area, membuat proses evakuasi berlangsung kacau dan penuh kepanikan.

Baca Juga  Indonesia Kenalkan Inovasi Pendanaan Kawasan Konservasi Pertama di Dunia pada Ajang UNOC 2025

“Seluruh anjungan berguncang. Rasanya seperti berjalan langsung ke neraka,” ujar seorang pekerja yang selamat, menggambarkan momen mengerikan saat ledakan terjadi.

Kobaran api yang tak terkendali membuat upaya penyelamatan terhambat selama berjam-jam. Sejumlah pekerja tidak sempat menyelamatkan diri ketika ledakan pertama menghantam.

Namun dampak terburuk justru terjadi setelahnya.

Sumur yang rusak terus memuntahkan minyak ke laut dalam jumlah besar. Dari perkiraan awal sekitar 1.000 barel per hari, kebocoran melonjak hingga lebih dari 60.000 barel per hari.

Selama berbulan-bulan, minyak mencemari perairan luas di Teluk Meksiko. Total sekitar 4,9 juta barel tumpah sebelum sumur akhirnya berhasil ditutup permanen pada September 2010.

Baca Juga  Paus Fransiskus Meninggal Dunia

Bencana ini menghancurkan ekosistem laut, melumpuhkan industri perikanan, dan berdampak besar pada kehidupan masyarakat pesisir.

Hasil investigasi mengungkap fakta yang lebih mengejutkan. Keputusan manajemen untuk menekan biaya dan mempercepat pekerjaan disebut sebagai faktor utama yang memicu tragedi ini.

“Perusahaan-perusahaan yang terlibat membuat keputusan untuk memangkas biaya dan menghemat waktu, yang pada akhirnya berkontribusi pada bencana ini,” demikian hasil investigasi resmi.

Sebagai konsekuensi, perusahaan yang terlibat harus membayar denda dan kompensasi lebih dari 60 miliar dolar AS—salah satu hukuman terbesar dalam sejarah industri energi global.

Tragedi ini menjadi pengingat keras: mengabaikan satu tanda bahaya bisa berujung pada bencana besar yang merenggut nyawa dan merusak lingkungan dalam skala luas.(*)

Baca Juga  Lancar, PPIH Arab Saudi Safari wukufkan 477 Jemaah Haji Lansia, Risti, dan Disabilitas

Berita Terkait

Bonus Bayi 2026 Cair, Keluarga Dapat Rp17 Juta
Lima Wakil Indonesia Siap Unjuk Gigi di Kumamoto Masters 2025
Malaysia Resmi Buka KTT ASEAN ke-47, Anwar Ibrahim Dorong ASEAN Jadi Pusat Pertumbuhan dan Perdamaian
Asia Catat Sejarah Baru, Mobil Terbang Siap Diuji di Langit Jepang
Amerika Serikat Alami Shutdown, Ratusan Ribu Pegawai Federal Terdampak
Hakim Frank Caprio Tutup Usia, Dunia Kehilangan Sosok Hakim Paling Humanis
Siswa SIC Tunjukkan Semangat Kepemimpinan dan Budaya di 6th Summer Scout Camp 2025 di Port Said
Garuda Pertiwi Tahan Imbang Kamboja, Tetap di Dasar Klasemen Grup A
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Monday, 20 April 2026 - 18:31 WITA

Kilang Minyak Meledak, 11 Tewas Usai Tanda Bahaya Diabaikan

Friday, 17 April 2026 - 21:29 WITA

Bonus Bayi 2026 Cair, Keluarga Dapat Rp17 Juta

Tuesday, 11 November 2025 - 14:52 WITA

Lima Wakil Indonesia Siap Unjuk Gigi di Kumamoto Masters 2025

Sunday, 26 October 2025 - 21:51 WITA

Malaysia Resmi Buka KTT ASEAN ke-47, Anwar Ibrahim Dorong ASEAN Jadi Pusat Pertumbuhan dan Perdamaian

Friday, 24 October 2025 - 23:14 WITA

Asia Catat Sejarah Baru, Mobil Terbang Siap Diuji di Langit Jepang

Berita Terbaru

Merauke

Ketika Tanah Adat Papua Dibuka untuk Proyek Raksasa

Wednesday, 20 May 2026 - 08:28 WITA

Rupiah Tembus Rp17.700, Tekanan Dolar Makin Agresif

Ekonomi

Rupiah Tembus Rp17.700, Tekanan Dolar Makin Agresif

Tuesday, 19 May 2026 - 13:25 WITA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa

Ekonomi

Rupiah Terpuruk dan IHSG Rontok, Pemerintah Bantah Krisis 1998

Tuesday, 19 May 2026 - 07:01 WITA

Illustrasi

Ekonomi

Rupiah Jebol Rp17.669, Pasar RI Mulai Panik

Monday, 18 May 2026 - 23:49 WITA