MALASYA,newsline.id — Kekuasaan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menghadapi ujian terberat sejak berkuasa pada 2022. Ribuan kader mulai meninggalkan Partai Keadilan Rakyat (PKR) setelah mantan orang kepercayaannya sendiri, Rafizi Ramli, mendirikan kekuatan politik baru yang kini berkembang cepat.
Gelombang eksodus itu memicu alarm di tubuh partai penguasa. Di tengah kritik terhadap lambatnya reformasi dan meningkatnya ketegangan koalisi pemerintah, kemunculan partai baru tersebut mulai menggerus fondasi politik yang selama ini menopang Anwar.
Rafizi yang pernah disebut sebagai calon penerus Anwar resmi keluar dari PKR dan mengambil alih Partai Bersama. Dalam waktu singkat, partai itu mengklaim menerima lebih dari 18 ribu pendaftaran anggota baru, dengan ribuan di antaranya berasal dari mantan kader PKR.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Situasi semakin serius ketika anggota parlemen PKR sekaligus pendukung lama Anwar, Hassan Abdul Karim, mengakui dirinya tak lagi mampu menghentikan arus perpindahan kader.
“PKR terluka, tersakiti, dan berada dalam kondisi kritis,” tulis Hassan.
Peringatan yang lebih keras kemudian muncul. Hassan menilai jika semakin banyak pendukung Rafizi meninggalkan PKR, legitimasi politik Anwar sebagai perdana menteri bisa ikut terancam.
Meski pemerintahan Anwar masih menguasai mayoritas parlemen, para analis menilai perpecahan yang terus melebar dapat merusak peluangnya mempertahankan kekuasaan pada periode berikutnya.
Kini ancaman terbesar bagi Anwar bukan lagi oposisi di luar pemerintahan. Ancaman itu datang dari dalam lingkaran yang dulu membesarkan namanya, saat mantan sekutu mulai membangun kekuatan baru dan menarik ribuan kader meninggalkan PKR.**








