Jakarta, Newsline.id — Di tengah gemuruh pembangunan dan modernisasi, Indonesia patut berbangga memiliki sosok seperti Prof. Dr. Emil Salim, tokoh yang tidak hanya berpikir maju, tetapi juga berpikir dalam. Dalam usia 95 tahun, beliau tidak sekadar menjadi saksi perjalanan bangsa, tetapi juga pengarah, pengingat, dan penjaga nurani pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.
Sebagaimana Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo dijuluki Begawan Ekonomi, maka pantaslah Emil Salim dikenang dan dihormati sebagai Begawan Lingkungan Hidup. Pengabdiannya lintas generasi, lintas rezim, dan lintas bidang: dari teknokrasi, akademisi, keulamaan moral, hingga pemikiran ekoteologis.
Apa yang membuat Emil Salim istimewa?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan hanya karena ia menduduki kursi menteri selama empat periode masa Orde Baru, melainkan karena ia memelihara integritas, kejujuran, dan konsistensi yang membuatnya dipercaya oleh Presiden dari Soeharto hingga Prabowo. Dalam wawancaranya, beliau menegaskan prinsipnya yang sederhana namun langka: “Katakan putih di depan, dan tetap katakan putih di belakang.”
Tak banyak tokoh yang berhasil menyatukan ekonomi, lingkungan, dan agama dalam satu kerangka berpikir yang utuh. Emil Salim berhasil menyusun gagasan ekoteologi, bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari ibadah, tanggung jawab terhadap Allah, sesama manusia, dan alam semesta. Ia menghidupkan semangat Al-Qur’an dalam konteks keberlanjutan hidup dan keseimbangan ekosistem.
Pemikiran-pemikirannya tentang pembangunan berkelanjutan menjadi tonggak penting untuk menjembatani kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Ia menyadari betul bahwa kemajuan yang hanya mengejar angka PDB tanpa memperhatikan keseimbangan ekologis dan keadilan sosial akan berakhir pada kehancuran.
Lebih dari itu, peranannya dalam membentuk Yayasan KEHATI, serta partisipasinya dalam KTT Bumi 1992, membuktikan bahwa pemikirannya diterima tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di forum internasional. Ia menjadi jembatan antara Indonesia dan dunia dalam urusan lingkungan.
Kepemimpinannya adalah teladan: jujur, bersih, dan berwibawa. Keikutsertaannya dalam study club bersama Bung Hatta menorehkan pengaruh mendalam pada gaya berpikirnya—logis, beretika, dan demokratis. Emil Salim adalah hasil dari tradisi intelektual yang kuat, dan sekaligus penjaga nilai-nilai luhur bangsa.
Kini, saat beliau memasuki usia ke-95 tahun, pikirannya tetap jernih, suaranya tetap kuat menyuarakan peringatan: “Alam tidak boleh dikeruk terus-menerus karena alam akan melakukan perlawanan dengan melahirkan bencana.” Pesan ini sangat relevan ketika bencana ekologis terus mengancam akibat kerakusan manusia.
Penutup
Bangsa ini berutang budi pada Emil Salim—bukan hanya karena jabatannya, tetapi karena keteladanan hidupnya. Emil Salim adalah teladan teknokrat berjiwa patriot, cendekiawan berjiwa rohaniah, dan pejabat yang tak tergoda kuasa dan korupsi. Ia bukan sekadar tokoh masa lalu, tetapi kompas moral masa kini dan masa depan.
Selamat ulang tahun ke-95, Prof. Dr. Emil Salim. Semoga Allah Swt terus menjaga kesehatan dan keberkahan hidup Bapak. Indonesia masih butuh suara jernih, teguh, dan bijak seperti Emil Salim. (**)
Sumber : Kementerian Agama RI








