Oleh: Melania Ida | Mahasiswi PGSD St. Paulus Ruteng
RUTENG,newsline.id – Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, kembali diguncang kabar memprihatinkan. Angka stunting di daerah ini melonjak hingga 13 persen pada Oktober 2025, naik tajam dari 9 persen di awal tahun. Lonjakan ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal keras bahwa strategi penanganan stunting selama ini perlu dievaluasi total.
Kepala Dinas Kesehatan Manggarai mengakui adanya “titik rawan” di wilayah Ruteng, Rahong Utara, dan Wae Ri’i. Data tersebut memperlihatkan bahwa upaya konvergensi lintas sektor yang selama ini dijalankan belum mampu menekan angka kasus secara berkelanjutan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melania Ida, mahasiswi PGSD Unika St. Paulus Ruteng, dalam analisisnya menilai bahwa penurunan angka stunting di tahun-tahun sebelumnya hanyalah capaian semu. Ia menyoroti lemahnya fondasi penanganan di lapangan, mulai dari kemiskinan yang belum tertangani, ketimpangan sosial, hingga rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gizi anak. “Konvergensi program yang dicanangkan pemerintah hanya berhenti di tataran slogan,” tegasnya.

Lebih jauh, Melania menjelaskan bahwa persoalan stunting di Manggarai tidak dapat dipandang semata dari aspek kesehatan. Faktor ekonomi, pola asuh, bahkan dinamika sosial seperti anak lahir di luar nikah turut memperparah kondisi. “Upaya yang tidak efektif sama artinya dengan tidak berupaya,” ujarnya lantang.
Dorong Akses Pendidikan, Kemdiktisaintek Siapkan Lahan Pembangunan Sekolah Garuda di Soe, NTT
Sebagai solusi, Melania menawarkan konsep Pendekatan Komunitas Terpadu, yakni gerakan sosial berbasis kearifan lokal yang melibatkan tokoh masyarakat untuk edukasi gizi yang relevan. Ia juga menekankan pentingnya intervensi ekonomi dan sosial yang tidak hanya memberi bantuan sesaat, tetapi membangun kemandirian keluarga melalui wirausaha dan pelatihan.
Selain itu, pemberdayaan perempuan disebut sebagai kunci utama dalam menekan stunting. “Perempuan harus menjadi garda depan dalam pemenuhan gizi keluarga. Kebijakan pemerintah harus benar-benar pro terhadap ibu hamil dan menyusui,” tambahnya.
Melania juga mendorong pemanfaatan teknologi dan data real-time agar pemantauan stunting bisa dilakukan lebih cepat, tepat, dan transparan.
Lonjakan kasus ini menjadi peringatan keras bagi seluruh pemangku kebijakan di Manggarai dan NTT pada umumnya. Jika tidak ada perubahan pendekatan yang berani dan menyeluruh, generasi masa depan terancam kehilangan hak dasar mereka: tumbuh sehat dan cerdas.
Manggarai kini ditantang untuk bangkit — meninggalkan pola lama yang terbukti tidak efektif, dan membangun strategi baru yang menembus batas birokrasi, ekonomi, dan budaya demi masa depan anak-anaknya.(user86)








