MANGGARAI — Potret pilu membayangi masa depan pertanian di Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Longsor besar yang terjadi pada 9 September 2025 lalu memutus aliran irigasi Wae Mau Satu di Dusun Reda, Desa Cambir Leca. Sekitar 25 meter jaringan irigasi tersebut rusak parah akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah itu selama beberapa hari.
Dampaknya fatal. Sedikitnya 50 hektare lahan persawahan di Kampung Reda (Desa Cambir Leca) dan Dusun Rotok (Desa Hilihintir) kini terancam gagal tanam. Padahal, irigasi vital tersebut baru selesai dibangun pada 2018 dengan biaya sekitar Rp25 miliar yang bersumber dari anggaran APBN. Infrastruktur yang diharapkan menjadi penopang kesejahteraan petani kini hancur diterjang bencana.
Meski tanpa bantuan resmi, masyarakat menunjukkan semangat gotong royong yang tinggi. Setiap hari Rabu dan Sabtu, warga Kampung Reda dan Rotok turun langsung ke lokasi membawa alat seadanya seperti linggis, sekop, dan kayu untuk memperbaiki saluran air. Namun, hingga delapan kali kerja bakti, hasilnya belum signifikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kesulitan bagi kami adalah banyaknya tumpukan tanah dan batu-batu besar,” ujar Remigius Mangsi, salah satu warga yang aktif dalam kegiatan perbaikan.
Situasi ini turut menarik perhatian anggota DPRD Provinsi NTT dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Junaidin. Menurutnya, pihaknya telah meminta data dan dokumentasi kondisi terkini sebagai langkah awal untuk menindaklanjuti permasalahan tersebut di tingkat provinsi.
Kini, ratusan petani menggantungkan harapan pada respons cepat pemerintah dan pihak terkait agar saluran irigasi segera diperbaiki. Nasib lahan pertanian di Satar Mese Barat pun bergantung pada seberapa cepat langkah nyata diambil untuk menghidupkan kembali aliran air yang menjadi nadi kehidupan mereka. (*)








