Orang utan sumatra bisa bercerita soal masa lalu

0 Komentar
Seekor orang utan sumatra (Pongo abelii) tampak menggendong bayinya. | Kevin Benckendorf /Shutterstock

Seekor orang utan sumatra (Pongo abelii) tampak menggendong bayinya. | Kevin Benckendorf /Shutterstock

Orang utan adalah salah satu hewan darat paling pintar di Bumi. Kini, para peneliti telah menemukan bukti bahwa kera besar ini dapat berkomunikasi tentang peristiwa masa lalu. Sebuah temuan pertama yang menguak sifat ini pada primata non-manusia.

Sebelumnya, pembagian informasi mengenai sesuatu yang terjadi pada masa lalu atau masa datang (displaced reference) dianggap hal unik yang hanya dimiliki manusia. Informasi tersebut dikabarkan kepada manusia lain melalui bahasa dalam percakapan.

Manusia mungkin menganggap ingatan akan masa lalu atau perkiraan tentang masa depan itu adalah hal yang biasa, tetapi tidak bagi makhluk hidup lainnya. Ikan mas koki misalnya, hanya memiliki ingatan selama tiga detik.

Oleh karena itu akan sulit bagi hewan-hewan untuk cerita tentang apa yang mereka alami pada pagi hari, atau dalam perjalanan menuju tempat mereka berkumpul, kepada teman-temannya.

Orang utan adalah sepupu jauh dari manusia (Homo sapiens). Mereka telah lama diketahui memiliki bahasa vokal untuk menyampaikan informasi kepada sesama. Misalnya untuk memperingatkan jika ada bahaya yang datang.

Para ilmuwan dari St. Andrews University, Skotlandia, rupanya tergerak untuk mengetahui apakah orang utan juga memiliki kemampuan menyampaikan displaced reference, bercerita mengenai masa lalu atau masa depan kepada kawanannya.

Mereka lalu melakukan penelitian di Hutan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh. Pada daerah yang terletak dalam Taman Nasional Gunung Leuser itu terdapat stasiun penelitian seluas 450 hektare yang dikelola Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) dan Forum Konservasi Leuser (FKL).

Daerah ini merupakan kawasan hidup orang utan sumatra (Pongo abelii) dan, menurut situs Mongabay, mereka cukup mudah ditemui di sana, terutama saat bermain dan mencari makan.

Hasil penelitian tersebut kemudian diterbitkan dalam jurnal Science Advances edisi 14 November 2018.

Untuk melakukan penelitian, dua orang dari tim peneliti–Adriano Reis e Lameira dan Josep Call pun menyamar. Mereka merangkak mendekati kawanan orang utan mengenakan jubah dengan warna berbeda, yaitu putih, berbintik-bintik, bermotif, dan meniru warna kulit harimau.

Mereka berkeliaran di dalam hutan lalu berhenti selama dua menit untuk memastikan kelompok orang utan yang bertengger di pepohonan dapat melihat mereka. Sasaran para peneliti itu adalah orang utan betina dan anaknya.

Pada percobaan pertama, tutur Lemaire dalam Sciencemag.org, seekor orang utan betina tua dan anaknya yang berusia 9 tahun tampak langsung terdiam begitu melihat peneliti berjubah harimau. Lameira menduga dalam dua menit si betina akan menyuarakan peringatan, tetapi hal itu tidak terjadi.

“Ia menghentikan kegiatannya, mendekap anaknya, buang air besar (salah satu tanda bahaya), dan perlahan memanjat pohon di dekatnya. Ia benar-benar diam,” kata Lameira.

Baru sekitar 20 menit kemudian si betina bersuara selama lebih dari sejam, seperti memberi peringatan kepada kawanannya.

Itu adalah waktu terlama dari tujuh betina yang mereka jadikan sebagai objek percobaan. Simulasi dilakukan sebanyak 24 kali dan rata-rata, jelas Lemaire, mereka baru bersuara 7 menit setelah peristiwa.

Lamaira berasumsi bahwa orang utan itu diam untuk jangka waktu yang lama bukan karena ketakutan. Kalau mereka ketakutan, tak mungkin dengan tenang menggendong bayinya lalu naik pohon dengan hati-hati.

Ia memperkirakan diamnya para ibu orang utan itu lebih karena tidak ingin menarik perhatian si pemangsa kepada dirinya dan si bayi.

Baru setelah merasa bahaya telah lewat, seperti dijelaskan dalam Science Advances, si ibu bercerita kepada teman-temannya mengenai situasi berbahaya yang ia hadapi beberapa waktu sebelumnya itu.

Lameira mengatakan bahwa kemampuan orang utan untuk menunggu sebelum menanggapi rangsangan adalah tanda kapasitas intelektualnya.

Dia mengemukakan, keterampilan ini, bersama dengan memori jangka panjang, komunikasi yang disengaja, dan kontrol yang baik atas otot-otot laring, mungkin pada akhirnya mengarah kepada evolusi bahasa kera. Hal itu juga yang menciptakan kemiripan dengan ucapan manusia.

“Perilaku vokal kera besar didukung oleh mesin kognitif tingkat tinggi jauh lebih kuat daripada yang telah lama diduga,” jelas Lameira. “Perilaku vokal bukan sekadar refleks atau respon yang terkondisikan oleh bahaya, tetapi perilaku yang terukur dan terkontrol.”

Meski demikian, temuan ini jauh dari kesimpulan definitif, dan penelitian lebih lanjut akan diperlukan untuk sepenuhnya mengonfirmasi temuan. Tetapi orang utan telah membuktikan diri sebagai hewan yang cukup cerdas.

Carl van Schaik, ahli primatologi dari Universitas Zurich, Swiss, yang tidak ikut dalam penelitian menyatakan kepada Sciencemag. org bahwa kemampuan untuk bercerita mengenai masa lalu atau masa depan adalah hal yang membuat bahasa menjadi efektif.

Hasil penelitian ini bisa menjadi rujukan untuk penelitian masa depan yang mungkin bisa menemukan petunjuk evolusi bahasa.

Tulisan ini berasal dari redaksi newsline.id

0 Komentar