Selayar 2020; Romantika Politik dan Pemberian Harapan Palsu

0 Komentar


Selayar, newsline.id — Membaca perkembangan dinamika politik di Selayar menjelang tahapan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati 2020, sepertinya semakin menarik.

Sebelumnya beberapa nama bakal calon bupati telah bermunculan sejak jauh hari, tapi kini semakin mengerucut pada kemungkinan dua atau tiga pasangan calon.

Tidak bisa kita pungkiri kalau para bakal calon itu mulai diperbincangkan saat ini, tidak hanya di ruang kerja tetapi di warung kopi, di pasar rakyat bahkan sampai di dapur emak-emak.

Kemarin lalu, saya ditelpon oleh salah satu rekan dari kampung untuk mempertanyakan salah satu nama bakal calon tapi saya belum memberikan jawaban yang detail.

Artinya bahwa nama – nama bakal calon betul – betul sudah sampai ke telinga masyarakat bahkan mereka yang tidak tersentuh oleh sosial media.

Belakangan ini para balon memang sudah mulai memanaskan mesinnya. Terlihat ada yang mulai memasang baliho dan alat peraga, ada yang sudah mulai turun lapangan untuk menguasai medan untuk mulai menajamkan intensitas populatitasnya dengan menggencarkan sosialisasi dan silaturahminya di masyarakat.

Ada pula yang tetap fokus menyelesaikan program dan janji politiknya karena masa jabatannya yang tidak lama lagi akan berakhir. Tapi rasa – rasanya akan tetap maju pada periode berikutnya.

Sambil mengkalkulasi persiapan dan memburu rekomendasi parpol sebagai kendaraan untuk menuju pada kontestasi Selayar 2020, geliat para bakal calon ini juga sudah mulai ada yang saling melirik pasangan.

Apalagi akhir – akhir ini terlihat ramai di sosial media. Beberapa foto bakal calon (balon) bersama calon pasangannya beredar di grup – grup baik Facebook maupun whatsapp. Entah itu bagian dari pembangunan opini atau sekedar menguji kekuatan publik figur keduanya. Wallahu a’lam…!!!

Bahkan sudah ada yang memberi sinyal akan berpasangan dengan siapa namun kelihatannya masih malu – malu kucing sehingga belum berani mengungkapnya ke publik.

Sama halnya beberapa hari yang lalu, beredar foto salah satu balon bupati, sebutlah petahana (Muh Basli Ali) yang saat ini masih menjabat sebagai Bupati, bersama salah satu tokoh Selayar dengan memperlihatkan gaya foto ‘salam komando’.

Meskipun hal itu sebenarnya lazim dilakukan oleh para tokoh politik apalagi dilakukan saat hari lebaran Idul Adha tapi karena netizen selalu benar di jagat maya sehingga foto itu tidak luput dari ciutannya dan tak sedikit juga netizen yang memberikan apresiasi atas pertemuan itu.

Meski ada yang bilang bahwa di raut wajah mereka ekspresi harap – harap cemas masih sulit untuk dihindari tapi bisa jadi pertemuan itu adalah sinyal untuk 2020. Bahkan keduanya masih enggan berkomentar terkait hubungannya yang kian terlihat mesrah akhir – akhir ini.

Seperti bahasa gaul anak muda Makassar bahwa para bakal calon saat ini memang masih saling bako Oddo’ atau sedang melakukan PDKT sembari menakar apakah cocok atau tidak jika berpasangan dengannya.

Karena hingga saat ini belum ada satu pun yang berani secara terang – terangan untuk mengutarakan isi hatinya bahwa akan berpasangan dengan siapa naik di panggung Pilkada 2020 nantinya.

Namun demikian, disetiap pertemuan para bakal calon itu tentu ada perjumpaan jiwa, penyatuan gagasan yang kadang diramu dalam bentuk bincang – bincang lepas sehingga pertemuan itu menyisakan pemberian harapan untuk berpasangan masuk di gelanggang pertarungan pilkada 2020.

Tetapi kemungkinan terburuk juga bisa saja terjadi. Meski romantika politik berjalan begitu merahnya tapi kadang pil manis berubah menjadi pil pahit. Karena telah banyak drama politik di negara ini yang dipertontonkan dan tidak sesuai dengan ekspektasi.

Terkadang diawal memang pembicaraannya terasa begitu manis, tapi pada endingnya malah terasa pahit seperti empedu sehingga drama politik seperti ini sedari awal perlu diantisipasi jangan sampai hanya diberi harapan palsu.

Seperti drama politik yang mungkin masih membekas dalam ingatan kita yang telah menimpa salah satu tokoh besar yakni Prof. Mahfud MD pada kontestasi Pilpres 2019 lalu.

Pada saat itu semua orang mungkin tahu nama beliau muncul ke permukaan sebagai salah satu calon pasangan Jokowi bahkan sudah bertebaran foto ucapan selamat dari rekan, sahabat dan loyalisnya.

Pak Mahfud tentu tidak ingin menyia – nyiakan kesempatan emas itu. Karena andaikan beliau yang dipilih menjadi Cawapres pada saat itu, tentu tidak lama lagi Ia akan dilantik sebagai wakil presiden RI mendampingi Joko Widodo.

Tetapi endingnya ternyata tidak sesuai dengan harapan. Semua pasti dapat merasakan bagaimana susana kebatinannya saat itu yang telah menjadi salah satu korban PHP. Apalagi sudah mempersiapkan segalanya bahkan telah dihubungi untuk menanyakan ukuran bajunya.

Beliau bahkan sudah diarahkan untuk siap – siap berangkat ke tempat pendeklarasian capres dan cawapres. Namun ternyata nama yang keluar bukan namanya meskipun inisialnya sama. Artinya pada posisi lastminute pun semua bisa berubah.

Tetapi untuk menutupi kegaduhan politik dan merawat semangat keindonesiaan beliau tetap tampil sebagai seorang negarawan dan ikhlas menerima keputusan politik dari partai koalisi Jokowi dengan memilih calon lain.

Hal serupa juga dialami oleh pasangan Prof. Nurdin Abdullah bersama Tanri Bali Lamo (TGL) pada Pilgub tahun lalu. Pasti masih ada yang tersimpan dibenak kita bagimana perjalanan romantika politik keduanya yang ternyata juga kandas di tengah jalan.

Pak TBL terpaksa menelan pil pahit. Sebab kalau tidak dipisahkan bisa jadi beliau yang dilantik sebagai wakil gubernur mendampingi Prof. Nurdin Abdullah.

Padahal waktu itu keduanya jauh sebelumnya telah melakukan sosialisasi, dan menebar pesona dengan memasang baliho serta spanduk di lorong – lorong kota bahkan sampai di pelosok desa.

Mereka bahkan telah mengklaim diri sebagai pasangan ideal yang tidak akan terpisahkan oleh apapun. Namun lagi-lagi semua bisa berubah di tengah jalan. Keduanya dipisahkan karena politik kawin paksa.

Artinya, romantika politik diatas cukuplah menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, terutama yang bakal calon bahwa tidak ada kepastian dalam politik.

Kita tidak bisa berharap sepenuhnya akan sesuatu yang belum terjadi, karena bisa saja hari ini “Iya” dan besok bisa jadi “Tidak” karena politik itu sangat dinamis.

Jadi jangan sekali – kali mengharapkan sesuatu dengan berlebihan karena bisa saja itu hanyalah pemberian harapan palsu. Termasuk soal pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati Selayar 2020.

Penulis : Suharlim (Pemuda Selayar).

Tulisan ini berasal dari redaksi newsline.id

0 Komentar