Refleksi 74 Tahun Indonesia Merdeka, Para Elit Sibuk Berebut Kursi Menteri

0 Komentar

Selayar, newsline.id — Pada 17 Agustus 74 Tahun yang lalu, detik-detik Proklamasi di bacakan oleh Pendiri Bangsa.

Hari yang begitu bersejarah dimana bangsa ini diberi Anugerah untuk memproklamirkan diri sebagai Negara yang berdaulat, Negara yang mempunyai Cita-cita dan Harapan .

Namun, mesti kita ketahui bahwa kemerdekaan bangsa ini tak semudah membaca teks sakral begitu saja. Ada darah perjuangan yang mengharu biru selama tiga setengah abad lamanya dalam permenungan panjang keluar dari belenggu imperialisme yang begitu profan menghisap tubuh Ayu Ibu Pertiwi.

Meskipun telah memasuki pintu gerbang kemerdekaan yang dianggap membahagiakan Pasca berakhirnya penjajahan Jepang di Indonesia. Nampaknya hal itu membuat Sekutu yang dibonceng oleh Belanda dalam hal ini Nederlandsch Indië Civiele Administratie (NICA) kembali melancarkan Aksi Polisionil.

Agresi militer yang mengorbankan 45.000 sampai 100.000 orang Indonesia, Sejarah 1945-1949 juga melahirkan berbagai perundingan seperti Perjanjian Linggarjati, Renville, Roem Royen, Konfrensi Meja Bundar sampai soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) yang ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam.

Dari peristiwa 1945-1949 banyak Pahlawan berjasa. Dari peristiwa ini jugalah kita bisa melihat kecerdasan diplomatik Sosialis bersahaja seperti Bung Sjahrir. Ketangkasan berpikir Bung Karno, Ketulusan Bung Hatta, kekuatan retorika Bung Tomo, ketenangan Sjafruddin Prawira Negara dalam memimpin Pemerintahan darurat.

Serta pengaruh Jenderal Besar Sudirman yang berhasil mempengaruhi sidang PBB dengan cara memimpin gerilya besar-besaran untuk membuktikan kepada Dunia bahwa Indonesia masih ada. Keberanian para kaum muda membentuk Tentara Pelajar yang dipimpin Slamet Riyadi.

Kebesaran hati Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tokoh kiri yang tetap merangkul yang berseberangan dengannya, saat diangkat menjadi PM Amir menawarkan jabatan menteri kepada Tokoh Masyumi, Kertosuwiryo. Namun, Kertosuwiryo yang mempunyai Integritas dan loyal kepada Masyumi menolak tawaran itu.

Sebuah hal yang sangat berbeda dengan Elite Politik Indonesia masa kini yang dimana ada elite justru sibuk berebut kursi Menteri, sibuk membicarakan Dinamika Purbawi sebut saja perdebatan Posisi dan Oposisi yang akhir-akhir ini Ramai.

Padahal dalam Antro sosiologis, manusia sebagai makhluk sosial dan juga zoon politicon yang berkeliaran di muka bumi adalah selang seling di antara posisi dan oposisi sebab Maha Pencipta telah menitipkan dua macam naluri dasar ke dalam sistem algoritma manusia yakni reptilia sebagai pelindung untuk bertahan dan menyerang dan mamalia untuk berkelompok dan berkasih sayang. Itulah bahan dasar posisi dan oposisi.

Kedua naluri dasar ini juga terdapat pada simpanse. Sebuah hal yang sangat memalukan menurut penulis dan menjadi kemunduran sebagai bangsa jika diumur yang ke 74 hanya menghasilkan Manusia-Manusia yang sibuk berebut kursi Menteri.

Perbedaan signifikan bukan hanya terjadi dalam dunia politik Indonesia tetapi juga dalam dunia militer yang dimana Para Aparat hari ini aktif dalam razia buku padahal pelarangan buku seperti itu Adalah hal yang paling menyedihkan bagi dunia ilmu pengetahuan dan sastra.

Apalagi jika razia itu dilakukan oleh Tentara maka akan terjadi sebuah hal yang sangat kontradiksi dengan pendahulunya seperti Tokoh Militer Indonesia yang justru mendukung dan Aktif dalam kegiatan literasi Seperti Letnan Jenderal T.B Simatupang, Pramoedya Ananta Toer (Mantan Serdadu).

Terakhir Jenderal Besar TNI A.H Nasution, bahkan sempat membuat buku yang berjudul “Pokok-pokok Gerilya”, buku menjadi bacaan wajib para kadet akademi militer di seluruh dunia termasuk Akademi Militer bergengsi Amerika Serikat, West Point.

Di Hari ulang tahun Indonesia yang ke 74 penulis hanya ingin menegaskan bahwa jika Para Petinggi di Negeri ini hanya sibuk dalam perebutan kekuasaan maka Merdeka 100% yang dicita-citakan pendiri bangsa tinggal konsep belaka tak lebih dari ungkapan motivasi untuk generasi kini dan nanti dalam usaha panjang menyelesaikan Revolusi yang belum usai.

Penulis: M. Yahya Wildan.

Tulisan ini berasal dari redaksi newsline.id

0 Komentar