PAS, Menjawab Gelombang Fitnah dengan Fakta

0 Komentar

Selayar, newsline.id Ada fenomena menarik dalam proses menuju Pilkada serentak 2020 di Kabupaten Selayar. Bermula dari munculnya seorang guru besar Universitas Cenderawasih, Prof. Dr. Drs. Akbar Silo, MS membawa akronim PAS.

Pria kalem tapi terkenal sering melontarkan candaan, yang trahnya 100% asli Selayar ini memulai langkah politiknya dengan berkeliling Indonesia menyapa tokoh masyarakat Selayar baik di rantau maupun di Selayar sendiri. Tujuan utamanya, minta restu dan petunjuk dari tokoh-tokoh yang didatangi.

Semenjak namanya muncul di masyarakat, PAS tidak pernah meng-counter segala cibiran, bahkan menjurus fitnahan yang dialamatkan ke dirinya. Termasuk di isukan kalau PAS tidak jadi maju lantaran tidak punya pasangan untuk masuk Pilkada Selayar 2020.

Di tengah perjalanan, ketua tim percepatan pembangunan salah satu daerah di tanah Papua ini, secara mengejutkan tiba-tiba mendeklarasikan diri berpasangan dengan Daeng Marowa, B.Eng, M.Eng, seorang pria alumni Jepang yang juga 100% putra asli Selayar yang sementara bermukim di Jakarta.

Beberapa pihak semakin gencar mencibir, mereka tidak mengerti keadaan ril Selayar karena sama-sama bermukim di luar Selayar, dan mereka selama ini sama sekali jauh dari gonjang-ganjing politis praktis.

Penggiringan opini negatif terus dilakukan, sampai menyoal konstribusi yang ril dilakukan oleh keduanya untuk Tanadoang sehingga dianggap sangat tidak memungkinkan untuk menarik simpati masyarakat. Padahal meskipun berpuluh puluh tahun berkiprah di perantauan, kedua figur ini tidak lupa daratan, hanya saja tidak etis menyebutnya satu persatu.

Saat itu, Pak Prof, demikian beliau sering disapa, kembali diam menghadapi cibiran tersebut, namun tetap melangkah dengan gayanya yang silent penuh misteri, bertolak belakang dengan gaya praktek politik umum selama ini yang penuh dengan perang opini dan propaganda.

Kenekatan PAS merangkul Daeng Marowa yang konon awalnya menolak terjun di dunia politik tentu punya alasan yang sangat prinsif, yang mungkin detailnya hanya beliau yang tau pasti. Yang bisa terbaca di permukaan, mungkin itu sebagai langkah awal konsep membangun Selayar yang partisipatif serta perpaduan model bottom up – top down yang sering beliau sampaikan.

Prof Akbar yang akademisi, super kaya dengan konsep pemeritahan dan pengembangan ekonomi daerah, serta berpengalaman dalam  memfasilitasi kepentingan masyarakat, berpadu dengan Daeng Marowa yang malang melintang di level internasional di dunia bisnis profesional dan teknologi, merupakan perpaduan konseptor dan eksekutor yang brilyan.

PAS yang dari timur Indonesia, serta Marowa yang dari barat Indonesia, akan memperluas cakrawala memandang permasalahan di Selayar dan solusi-solusi jitu untuk menanganinya. Menakar daerah asal keduanya, PAS dari Selatan Selayar, dan Marowa dari Utara Selayar menunjukkan pesan, ayo semua kita saling merangkul bergandengan tangan untuk membangun Selayar kearah yang labih maju.

Dengan langkah awal ini, tanpa propaganda dan perang argumen, PAS seakan memberi kuliah dengan aksi bahwa “membangun Selayar yang partisipatif dengan model buttom up – top down” bukan janji dan propaganda kosong yang hampa makna, setidaknya menilik langkah-langkah PAS yang sudah dilakukan selama ini.

*Tak Bergeming Dengan Fitnahan*

Beberapa saat di awal pergerakan Tim PAS melakukan sosialisasi di Selayar, sempat berseliweran pesan berantai di lapangan maupun di medsos dari pihak lawan politik yang cenderung bernada fitnah, “PAS tidak jadi nyalon, tidak punya uang”. Prof Akbar hanya berpesan singkat ke pendukungnya yang sempat ikut resah, “Buat apa ngurus orang lain. Perkuat barisan sendiri dan mari jawab dengan bekerja di lapangan”.

Beliau juga selalu berpesan agar jangan mengurusi kekurangan orang lain, apalagi menjelek-jelekkan mereka. Kita berangkat dari sebuah niat baik dan memiliki tujuan yang baik untuk kemaslahatan masyarakat Selayar, maka bergeraklah dengan cara yang baik pula, sambungnya dengan santai. Dan rentetan kenyataannya, terbentuknya posko pemenangan, pendaftaran ke semua partai yang membuka pendaftaran, menjawab keseriusannya untuk maju di Pilkada Selayar.

Selang beberapa waktu, kembali bertebaran propaganda negatif “Pas tidak serius. Sudah pulang ke Papua”. Sementara itu Posko pusat PAS di Jl. Diponegoro Benteng Selayar yang sempat diwacanakan sudah tutup justru tetap penuh dengan aktifitas.

Tim PAS tidak berhenti bahu-membahu berjuang keliling kampung. Sebagian anggota masyarakat yang terpengaruh oleh fitnah tersebut mulai dilanda kegundahan. Beberapa anggota tim pun sempat mengeluh kerepotan memberikan penjelasan ke masyarakat pendukung. Di balik itu, Prof Akbar hanya menjawab santai seperti tidak punya beban, “Biarkan saja. Tidak ada kebaikan yang bisa dibangun dengan cara-cara yang cenderung mendzholimi”.

Arus propaganda negatif di lapangan terhadap PAS seakan tidak pernah berhenti bak sinetron telenovela yang tidak mengenal kata “The End”, seperti bunglon berubah wujud dari waktu ke waktu.

Terakhir seakan menyeluruh dihembuskan secara masif, “PASMO tidak memiliki partai sebagai kendaraan”. Di medsos sampai menjadi bahan sindiran seperti, “itu ada motor butut, bisa dikendarai atau jalan kaki saja nanti ke KPU”. Pendukung sebagian kembali galau berjamaah. Anehnya, Prof Akbar hanya menjawab cibiran itu dengan, “Partai, benar kami tidak punya, karena tidak pernah membuat partai”.

Senyuman santai menjawab cibiran itu kadang membuat relawan PASMO agak sewot, namun PAS tidak pernah berhenti berikhtiar dengan aksi nyata. Terakhir lalu muncul foto-foto penyerahan surat tugas kepada pasangan PASMO-Daeng dari DPP sebuah partai beserta foto surat tugas yang sejatinya diterima pada 02 Maret 2020 berdasar pada tanggal keluarnya surat tersebut.

Surat yang sebetulnya diterima 10 hari sebelumnya, terpaksa dibuka di ruang publik, bukan untuk menjelaskan bahwa tanpa kehebohan, PASMO tetap bekerja diam-diam, melainkan sekedar untuk menunjukkan secara fakta kalau rentetan fitnah itu tidak benar. Prof Akbar bahkan sempat menambahkan, tunggu fakta-fakta berikutnya, ibarat drama “love story” yang secara nakal membuat penonton penasaran dengan kata-kata “To be continue…”.

Satu persatu propaganda negatif yang dihembuskan beberapa pihak dari kampung ke kampung dijawab dengan fakta nyata oleh PASMO. Ada sedikit raut wajah gundah gulana dari sebagian relawan laksana tertular penyakit bisul yang siap pecah, sampai kapan kita akan diam terhadap segala macam propaganda menjurus fitnah seperti ini.

Namun kembali dijawab oleh Prof Akbar dengan pernyataan klisenya, “Biarkan saja”. Saat beberapa pendukung menunjukkan ketidak-puasan jawaban tersebut, beliau mengeluarkan candaan, “Injo rikuangan Ditte nyake ia poso”.

Semakin menunjukkan bahwa langkah politik seorang Prof Akbar Silo sepertinya memang anti mainstream dan penuh misteri. Hal tersebut bisa berimbas positif sekaligus negatif, namun beliau tetap tidak bergeming dengan caranya sendiri.

Tidak jarang khalayak dibuat bingung, dan sambil harap-harap cemas, muncul pertanyaan di benak, “Itukah cara berpolitik seorang Professor?”. Kita tunggu kejutan-kejutan berikutnya Prof!

Penulis:  Relawan PASMO_Daeng.
Editor:  HR*

Tulisan ini berasal dari redaksi newsline.id

0 Komentar