Kisruh Pembangunan Home Stay Pariwisata Di Rajuni, Begini Klarifikasi Camat Takabonerate

0 Komentar


Selayar – newsline.id Pembangunan Home Stay Pariwisata di Desa Rajuni Kecamatan Takabonerate belakangan ini marak diperbincangkan.

Pasalnya, pekerjaan proyek Home Stay Desa Rajuni dianggarkan dari dana APBN TA 2018 diduga tidak sesuai dengan juknis.

Sehingga gedung tersebut kini disegel sebelum dimanfaatkan. Penyegelan home stay tersebut diduga dilakukan oleh pemilik lahan dan disaksikan oleh warga Desa Rajuni yang punya keterkaitan dengan proyek ini, demikian dilansir newsline.id,  Selasa (27/08/2019)

Lantaran dikhawatirkan terjadi informasi yang melebar, Camat Takabonerate Andi Asling, memberikan klarifikasi terkait Pembangunan Desa Wisata, Pembangunan Jalan Wisata (setapak) dan Homestay di Desa Rajuni.

Andi Asling menerangkan, bahwa sesungguhnya menghadirkan proyek ini (Desa Wisata Rajuni) adalah perjuangan, tidak datang dengan tiba-tiba, dan pihaknya sengaja hadirkan di Rajuni ketika dipercaya menjadi penjabat kades disana, dengan cita-cita agung menjadikan Rajuni sebagai salah satu desa wisata dari 10 (sepuluh) Desa Wisata di Indonesia, sekaligus menjadi pintu masuk dan pilihan lain selain Tinabo disertai harapan semoga dapat memperbaiki ekonomi atau menambah penghasilan bagi masyarakat Rajuni.

Kemudian, kata dia, munculnya masalah dan kini menjadi satu kekisruhan baru di masyarakat, disebabkan karena kami diganti dipertengahan jalan pada tanggal, 7 Nopember 2018, sementara (proyek ini, masa pengerjaannya sampai bulan Desember 2018) dengan anggaran 550 juta rupiah, dan didalamnya tidak termasuk anggaran pembebasan lahan. Sebab disepakati untuk anggaran pembebasan lahan difasilitasi oleh pemerintah desa, yaitu dianggarkan pada APBDes Tahun 2019. (Entah dianggarkan atau tidak_disitulah etika berpemerintahan dipertanyakan).

“Semrautnya, karena kami baru sempat mencairkan 70% dari total anggaran kegiatan, kami sudah diganti. Padahal, saat dibahas di DPRD kami meminta, kalaupun kami mau diganti, maka biarkanlah proyek ini berjalan sampai bulan Desember/akhir tahun. Sebab, ada anggaran/proyek APBN dalam masa pengerjaan. Tujuan kami sangag jelas : “Menghindari masalah dan menjaga Kepercayaan Pemerintah Pusat sekaligus mempertegas siapa yang akan bertanggung jawab terhadap pekerjaan itu,” kata Andi Asling dikutip dari akun facebooknya, Selasa (27/08/2019).

Oleh karena itu, lanjut dia, segenap rentetan permasalahan hari ini, sesungguhnya bermula disitu, sehingga sisa dana yang 30% dengan nilai sebanyak 165 jt rupiah (jalan setapak 57 jt dan Homestay 108 jt) , dicairkan oleh Bapak Rusli Patta Gowa yang diaktifkan kembali pada posisinya sebagai Kepala Desa. Asumsi kami andai saja dana ini digunakan sesuai peruntukannya, semua pasti akan berjalan sebagaimana mestinya tanpa bengkalai dan menyisakan persoalan seperti saat ini.

“Disisi lain kami meninggalkan jabatan sebagai penjabat, telah menyelesaikan pekerjaan Fisik Jalan Setapak 100% dan Fisik Homestay 90%. Sementara dana yang sempat kami cairkan baru 70%. Maka, dana 165 jt itu, harusnya sangat memadai untuk menyelesaikan beban biaya material dan upah Tukang, dll. Karena sisa hutang, terhitung hanya sebanyak 30-40 jt saja, bahkan harga lahan-pun sesungguhnya bisa dilunasi, walau anggarannya tidak masuk dalam RAB,” terangnya.

Lantaran polemik pembangunan home stay tersebut, mantan Lurah Benteng ini mengaku sangat kecewa karena andai proyek ini tidak bermasalah, maka tahun 2019 (tahun ini), dipastikan akan mengucur kembali dana dari pemerintah pusat sebanyak 1 milyar ke Desa Rajuni, karena desain Desa Wisata itu sifatnya berkelanjutan.

“Kekecewaan kami di sebabkan oleh rusaknya nama baik kami di masyarakat dan hilangnya kepercayaan pemerintah pusat ke kami serta Kepulauan Selayar sedikit terciderai oleh kasus ini,” ungkapnya.

“Kami sengaja menanggapi postingan-postingan yang muncul di Medsos/Sosmed dan Masyarakat, disamping sebagai bentuk tanggung-jawab etis kami pada jabatan dan nilai integritas kami sebagai manusia di hadapan Tuhan dan Masyarakat. Juga agar opini yang berkembang tidak menjadi liar serta komentar-komentar yang muncul bukan dari orang-orang tidak memahami/berkompoten terhadap kebenaran persoalan yang ada,” kunci Camat Takabonerate, Andi Asling.

Tulisan ini berasal dari redaksi newsline.id

0 Komentar