Sawit Dan Automotif Jadi Komoditas Unggulan Indonesia

0 Komentar
ist

ist

Newsline.id — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total nilai ekspor produk sawit pada 2018 sebesar UDS17,89 miliar dan berkontribusi hingga 35 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Dalam sektor ketahanan energi, penerapan kebijakan mandatori biodiesel B20 dalam kurun waktu Januari hingga Juli 2019 mencapai USD1,66 miliar atau setara dengan Rp23,5 triliun.

Penghematan tersebut lantaran berkurangnya impor solar. Sebagai industri padat karya, jutaan masyarakat pun bergantung pada sektor kelapa sawit.

Industri perkebunan sawit mampu menyerap hingga 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 14,3 juta tenaga kerja tidak langsung.

Sementara kebun sawit yang dikelola petani swadaya mampu menyerap 4,6 juta orang. Selain itu, sejak 2000, sektor kelapa sawit Indonesia membantu 10 juta orang keluar dari garis kemiskinan karena faktor-faktor yang terkait dengan ekspansi kelapa sawit.

Setidaknya 1,3 juta orang yang hidup di pedesaan keluar dari garis kemiskinan secara langsung berkat kelapa sawit.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan daerah-daerah yang dominan kelapa sawitnya memiliki tingkat kemiskinan yang lebih rendah dibanding daerah lain.

Konteks ini menunjukkan bahwa industri kelapa sawit berkontribusi terhadap pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals ) 2030.

“Artinya, kita sejalan dengan dengan program PBB untuk menyejahterakan masyarakat,” terang Menko Darmin.

Kemudian dari sisi produktivitas, kelapa sawit mampu memproduksi 6- 10 kali dibandingkan minyak nabati lainnya. Sebagai perbandingan, soybean memiliki produktivitas 0,4 ton/ha, sunflower 0,6 ton/ha, rapseed oil 0,7 ton/ha, sementara kelapa sawit 4 ton/ha.

Darmin menerangkan, Indonesia telah menerapkan Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) sejak 2011. ISPO dirancang untuk memastikan bahwa kelapa sawit Indonesia dikelola dengan Good Agricultural Practices /GAP sesuai dengan prinsip sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan. 

“Saat ini kita sedang melakukan proses penguatan ISPO dengan menyiapkan perpres baru. ISPO yang lama kurang tegas memberikan dukungan ke perkebunan kecil,” katanya.

Rancangan Perpres Penguatan ISPO tersebut saat ini sedang dalam tahap harmonisasi di Kementerian Hukum dan HAM, untuk kemudian diusulkan pengesahannya ke presiden.

Dengan adanya aturan baru ini, perkebunan kecil, kata Darmin bisa benar-benar memenuhi standar keberlanjutan.

“Sektor kelapa sawit telah terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan,” tegas Menko Darmin.

Sementara di sektor industri automotif, Indonesia pada 2018 telah mengekspor mobil utuh (completely built up /CBU) mencapai 250.000 unit. 

Pada 2019, ekspor kendaraan CBU ditargetkan mencapai 400.000 unit dan diharapkan terus meningkat setiap tahunnya.

“Jadi, industri automotif sebagai penghasil devisa yang cukup signifikan, “ujar Airlangga Hartanto.

Apalagi, industri ini sudah semakin kuat dengan ditopang sektor pendukung seperti industri baja, industri kimia untuk produk plastik, industri karet, termasuk kita sudah membangun industri karet sintetis di Indonesia. (**/R2)

Tulisan ini berasal dari redaksi newsline.id

0 Komentar